once upon a time in : NEPAL (part 1)

Nepal adalah sebuah negara yang tidak begitu asing di telinga. Namun ketika disodorkan sebuah peta dan disuruh untuk menunjukan letak negara tersebut mungkin sebagian dari kita akan membutuhkan waktu cukup lama untuk menemukannya. Kami sangat gembira untuk dapat berpetualang dan merasakan kultur yang berbeda di negeri yang eksotis ini. Belum lagi pegunungan Himalayanya yang begitu terkenal sehingga membuat kami tidak sabar untuk memulai semuanya. Perjalanan kali ini, Amank dan saya mengajak serta teman kami yang bernama Vero. Seorang cewek manis asal Bandung yang juga pecinta jalan-jalan.

“Alright, you each pay one fifty (150), one fifty (150) and one fifty (150) Baht. So, total four fifty (450) Baht, okay ?” Tawaran supir taksi Bangkok yang akan membawa kami dari Airport ke Khao San Road itu langsung kami tolak. Tentu saja, setelah sampai di tujuan, harga yang harus kami bayar dengan menggunakan meteran taksi hanya 375 Baht. Itu juga sudah termasuk untuk bayar karcis tol.
Bangkok merupakan kota transit kami untuk satu malam sebelum meneruskan perjalanan kami ke Nepal pada keesokan harinya. Kami menginap di Hotel Rambutri Village yang terletak di kawasan Khao San Road. Kawasan ini sangat terkenal sebagai kawasan turis asing. Tempat penginapan dari yang murah sampai yang mahal, tempat makan berbagai macam, bar, cafe, money-changer, baju-baju murah dan pasar semua terdapat di sini. Gak heran kenapa banyak turis begitu senang untuk memilih tinggal di daerah sini.
Hotel tempat kami menginap biasa saja dan terlihat berbeda dari poto-potonya yang saya lihat di internet yang keliatan bagus dan keren. Tapi ya sudah lah, paling gak cukup bersih kok.
Sebotol bir dingin membantu menyegarkan saya dari panasnya udara di Bangkok. Beberapa cowok bahkan bejalan dengan bertelanjang dada ditengah keramaian Khao San Road. Kami duduk di sebuah cafe kecil dan memperhatikan orang berlalu lalang.
Malam harinya, kami makan di sebuah warung pinggir jalan yang menyediakan makanan beraneka ragam yang di taruh di atas gerobak. Saya memilih kerang, ayam goreng dan sosis yang dihidangkan dengan nasi untuk menu makan malam saya.

Amank sangat antusias dengan menginapnya kita di Bangkok. Dia udah lama kepingin nyicipin cemilan dari serangga khas Thailand. Suatu hal yang sangat unik dan tidak mudah didapatkan di negara lain. Setelah berkeliling cukup lama, akhirnya kami pun menemukan si penjual cemilan ini. Kami berdiri melongok di depan gerobaknya. Serangga yang dijualnya beraneka ragam seperti kalajengking, ulat, jangkrik, belalang, capung, kecoak yang berukuran besar dan beberapa lainnya. Pokoknya lengkap dan menyeramkan haha. Seperti yang bisa diduga kami sempet mau mundur kebingungan mau beli atau gak. Amank pun mengeluarkan satu kalimat pamungkasnya, ” Kapan lagi kalo gak dicoba sekarang !?! ” dan beberapa saat kemudian kami sudah memegang kantongan plastik yang berisikan serangga-serangga tersebut. Serangga-serangga itu kami beli cukup murah dengan seharga 20 Baht. Namun tidak termasuk kalajengking dan kecoak. Dua serangga ini harganya agak sedikit lebih mahal.
Saya mendapatkan giliran pertama untuk mencoba dilanjutkan oleh Vero dan lalu Amank. Gigitan pertama selalu menjadi hal yang tersulit. Dalam beberapa detik akan banyak hal yang terlintas dipikiran anda. “Bagaimana nih rasanya nanti waktu udah masuk di mulut, pahit atau gak ya ?”, “Erm, ini bersih gak sih ?” dan anda pun mulai terbayang seakan serangga ini masih hidup dan bergerak di tangan anda. Haha.
Ternyata rasanya gak seperti yang saya kira. Jangkrik pertama yang saya makan rasanya gurih dan kami pun akhirnya memakan semua serangga yang ada di kantong plastik itu sampai habis. Selanjutnya Amank kembali menyarankan untuk menyicipi makanan khas Thailand yaitu Manggo Sticky Rice. Nasi ketan yang dimakan dengan sepotong mangga manis dan dicampur dengan santan. Rasanya enak dan segar. Setelah puas berkeliling akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke hotel untuk beristirahat.

NAMASTE !

Sebenernya rencana kita untuk pergi backpacking ke Nepal sudah ada sejak awal tahun 2012. Waktu itu kita rencananya mau pergi ke Tibet dengan melewati Nepal. Tiket pulang pergi dan hotel pun sudah kita booked semua. Namun rencana kita untuk bisa pergi ke ” Atap Dunia” itu pun gagal. Pemerintah China mengubah peraturan dan regulasi untuk mendapatkan ijin masuk ke Tibet secara tiba-tiba. Waktu itu mereka mengharuskan setiap pengajuan permintaan ijin berjumlah minimal 5 orang dengan kewarganegaraan yang sama. Kami pun terpaksa membatalkan rencana itu karena kesulitan mencari teman dalam waktu yang sangat singkat. Akhirnya kita harus gigit jari dengan merelakan sebagian dari tiket kami hangus karena tidak bisa direfund.
Dikarenakan peraturan dan regulasi untuk memasuki Tibet yang selalu berubah-ubah, kali ini kami pun akhirnya memutuskan untuk backpacking ke Nepal saja dan mengundur impian kami untuk bisa menginjakan kaki di Tibet.

Kami sampai di Suvarnabhumi Airport (Bangkok) sekitar pukul 9 pagi hari. Setelah melakukan proses check in kami pun menyempatkan diri untuk sarapan di airport. Suvarnabhumi Airport merupakan airport baru yang modern. Terdapat banyak pilihan tempat belanja dan restaurant. Nama Suvarnabhumi Airport itu sendiri diberikan oleh Raja Thailand yang berarti ” The Golden Land “.

Penerbangan kami dengan menggunakan Thai Airways berangkat tepat waktu. Selama dalam penerbangan, kami beberapa kali disuguhi makanan dan minuman. Setiap penumpang pun dipinjami selimut dan sebuah bantal kecil untuk membuat diri kita nyaman. Gara-gara kami biasanya selalu menggunakan budget airlines, pelayanan ini pun terkesan mewah buat kami.

Setelah melewati penerbangan selama kurang lebih 4 jam, akhirnya kami tiba di Tribhuvan International Airport, Kathmandu, Nepal. Hal pertama yang kami lakukan adalah mengajukan permohonan visa. Visa bisa didapatkan on arrival untuk beberapa negara termasuk Indonesia. Pendaftarannya pun gampang kok. Setelah mengambil bagasi kami langsung menuju parkiran di mana salah satu staff hotel sudah menanti untuk menjemput kami. Perasaan yang sangat menyenangkan untuk bisa sampai di Nepal dan memulai pertualangan kami. Jalanan di Kathmandu bisa dibilang agak semerawut namun masih belum bisa mengalahkan hingar bingarnya jalan di India. Di sepanjang perjalanan kami selalu mendengar bunyi klapson yang saling bersahutan yang hampir tak pernah berhenti. Supir kami melaju dengan kencang melewati beberapa gang-gang kecil menanjak yang kami pikir tidak bisa dilewati oleh sebuah van. Semuanya itu menambah sensasi tersendiri dalam perjalanan ini.

Kami menginap di Excelssior Hotel yang terletak di salah satu gang kecil di Thammel Road. Sama dengan Khao San Roadnya di Bangkok, Thammel Road ini juga merupakan wilayah kawasan turis. Banyak banget turis bule yang tinggal di sini. Kami memilih sebuah triple-bedrooms dengan kamar mandi di dalam. Perabotan lain yang ada hanyalah sebuah tv tabung yang berukuran mini dan sebuah kipas angin lanjut usia yang ditempel di dinding.

Kami berjalan menyusuri jalan Thammel Road dan seketika mendapatkan diri kami terpana oleh uniknya tempat tua ini. Di sepanjang jalan kami melihat toko-toko kecil berjejer menyediakan postcards dan buku-buku yang tertata rapi, boneka-boneka kecil buatan tangan yang tergantung di atas pintu, pedagang kaki lima dengan mejanya yang penuh dengan ukiran-ukiran dan patung-patung yang eksotis, topeng-topeng kayu yang berwarna-warni menghiasi dinding-dinding jalan dan beberapa penjual makanan ringan khas nepal. Tempat ini juga merupakan surga buat para pecinta trekking dan hikking. Banyak peralatan seperti sepatu trekking, trekking sticks, hikking poles, jaket, sleeping bags, kemah dan lain-lainnya tersedia disini.

Perjalanan kami yang tak tentu arah di kawasan Thammel membawa kami ke sebuah gang kecil yang seakan terselip di antara perumahan warga. Dengan penasaran kami memasukinya dan ternyata kami mendapati sebuah lapangan yang sangat luas dengan sebuah stupa di tengah-tengahnya. Terlihat beberapa anak kecil sedang bermain-main di sekitar lapangan. Ada yang bermain kejar-kejaran dan ada juga yang bermain cricket. Seorang gadis kecil datang menghampiri saya dan bertanya, ” Hai, what’s is your name ?”. Setelah saya menjawabnya dia pun lari kembali ke teman-temannya dan beberapa saat kemudian dia kembali datang dengan sebuah pertanyaan, ” Where are you from ?”. Saya pun menjawabnya dan saya pun ditinggal lagi. Saya memutuskan untuk duduk dipinggir lapangan mengistirahatkan kaki sambil nungguin Amank dan Vero yang lagi poto-poto. Eh taunya si gadis kecil itu dateng lagi. Saya udah bisa nebak nih palingan mau tanya pertanyaan standard seperti ” How old are you?” atau sejenisnya dan ternyata saya salah. Pertanyaannya adalah, ” Do you have any chocolate or candy for me ?”. haha. Saya pun menggelengkan kepala sambil tersenyum. Sebenernya ada sih coklat silverqueen di tas tapi sisa satu dan sengaja saya simpen untuk nanti pas lagi kelaperan. *pelit

Sore itu kami memutuskan untuk nyemal-nyemil di rooftop restaurant di hotel kami. Saya memesan Chicken Curry dan beberapa lembar Roti Chennai. Butuh waktu yang cukup lama untuk makanan yang kami pesan sampai ke meja kami. Lapernya udah keburu hilang. Sembari menyantap makanan, kami berkenalan dengan pelayan restaurant tersebut. Namanya Subash dan berumur 26 tahun. Amank yang jago bersosaliasi selalu mempunyai topik untuk dibicarakan. Walaupun topiknya terkadang nyeleneh tapi justru itu yang bikin asik dan cepet akrab. Suasana menjadi sangat santai dengan obrolan-obrolan gak tentu arah ditemani oleh seteko teh nepal.

courtesy image by Veronika Somali

Pada malam harinya, kami berjalan kaki menuju The Rum Doodle Restaurant & Bar. Nah.. dari namanya aja udah kedengeran asik kan. Nama restaurant ini sebenernya diambil dari nama salah satu gunung tertinggi yang ada di dunia dan yang lebih asik lagi.. anda bisa makan gratis seumur hidup di sini !! Iyaa.. seumur hidup bokk..!! namun dengan satu syarat, anda harus bisa menaklukan Gunung Everest terlebih dahulu. Sesuatu yang unik dari restaurant ini, dinding-dinding restaurant dipenuhi oleh potongan-potongan kayu yang berbentuk tapak kaki besar yang buaanyak banget jumlahnya. Setiap potongan menyimpan beberapa cerita singkat yang ditulis para tamu restaurant yang pada umumnya adalah traveller dan para pendaki. Orang-orang terkenal seperti Sir Edmund Hillary dan Rob Hall pun juga memiliki tanda tangannya terpajang di salah satu potongan kayu tersebut. Tak heran jika para pendaki memilih tempat ini sebagai tempat yang wajib untuk dikunjungi. Time magazine pada tahun 1985 pun pernah memuat dan memilih tempat ini sebagai salah satu bar terbaik yang ada di dunia.

Kami memilih lantai paling atas dengan tempat terbuka untuk menyantap makan malam kami. Namun rasa makanannya tidak seistimewa tempatnya. Mungkin yang kami pesan bukanlah menu spesial di tempat itu. Setelah selesai kami bersantai sejenak untuk menghabiskan waktu sebelum kembali ke hotel dan menutup malam pertama kami di Kathmandu, Nepal.

Boudhanath, Pashupatinath, Swayambunath & Durbar Square

Pagi itu aktivitas di wilayah Thammel masih tampak sepi. Beberapa pemilik toko lebih memilih untuk berdiri di depan toko mereka menunggu calon pembeli sambil ngerumpi. Cuaca yang sangat cerah dan menjanjikan membuat kami tambah bersemangat untuk memulai hari itu.

Tujuan pertama kami adalah ke Boudhanath Stupa. Sebuah stupa besar yang dibangun oleh para penganut ajaran Buddha dari Tibet. Kami sampai dan langsung membeli karcis untuk dapat masuk ke tempat yang termasuk dalam UNESCO World Heritage ini.

Pada zaman dulu, tempat ini terletak di jalur perdagangan yang sering dilewati oleh warga Tibet dan Nepal. Para pedagang Tibet pun sering menggunakan tempat ini untuk beristirahat dan berdoa sebelum melanjutkan perjalanan mereka.
Pada sekitar tahun 1950an, para penduduk Tibet yang melarikan diri dari jajahan China berbondong-bondong untuk mengungsi ke Nepal dan sebagian besar dari mereka memutuskan untuk tinggal di daerah ini. Tempat ini menjadi salah satu tempat terpenting bagi para peziarah dan bagi penganut ajaran Buddha Tibet. Tak heran jika kami melihat begitu banyak warga Tibet berdoa di tempat ini. Dinding bawah stupa dikelilingi oleh praying wheels dan mereka berdoa mengitari searah jarum jam stupa ini sambil memutar praying wheels tersebut. Sangat mudah untuk bisa mengenali seorang perempuan Tibet dengan pakaian traditionalnya. Mereka memakai sejenis celemek dengan motif garis-garis yang berwarna warni. Namun biasanya hanya wanita Tibet yang sudah menikah saja yang memakai kain ini.
Bendera doa dengan berbagai warna khas Tibet yang panjang terikat di beberapa sudut stupa. Asap dari dupa-dupa yang dibakar seringkali tercium diiringi dengan doa-doa yang dipanjatkan oleh para biksu yang terdengar misterius.

Kami melanjutkan perjalanan kami ke sebuah kuil Hindu yang sangat besar dan juga termasuk di dalam UNESCO World Heritage. Pashupatinath Temple adalah sebuah kuil bagi umat Hindu untuk berdoa kepada Lord Shiva. Banyak lagenda yang menceritakan tentang asal usul kuil ini dan salah satu yang terkenal adalah tentang Lord Shiva bermanifestasi menjadi Pashupati (Lord of Animals). Kuil ini sendiri diketahui keberadaannya sejak 400 A.D. yang berarti umurnya sudah lebih dari seribu tahun. Namun, hanya umat beragama Hindu saja yang boleh diperkenankan untuk masuk ke dalam kuil. Para pengunjung yang bukan beragama Hindu hanya boleh berkeliling di sekitar wilayah luarnya saja.
Karena tidak ada dari kami yang bergama Hindu maka kami bertiga pun tidak ada yang bisa masuk ke dalam kuil. Namun dengan pantang menyerah begitu saja kami pun memutuskan untuk mencari dataran yang lebih tinggi supaya bisa melihat ke dalam kuil. Sembari kami menyusuri jalan setapak yang kecil untuk mencari tempat yang pas buat ngintip ke dalam kuil, kami mendengar sayup-sayup suara anak-anak. Rupanya di sini ada sebuah sekolah kecil yang isinya hanya ada dua ruangan. Letaknya pun tersembunyi dari tempat umum. Sambil celingak-celinguk kami iseng-iseng masuk ke dalam dan bertemu dengan seorang guru yang aduhai cantik banget. haha. Kami meminta ijin untuk berpoto-poto dan ibu guru yang cantik jelita ini memperbolehkan. Namun kami tidak berlama-lama di sini karena takut mengganggu proses belajar mereka. Kami akhirnya menemukan sebuah tempat untuk melihat ke dalam kuil. Namun sayang kami hanya dapat melihat sebagian kecil saja aktivitas yang sedang terjadi di dalam kuil karena terlindung oleh dinding besar kuil.

Kami bertemu dengan beberapa orang Holymen di sini. Mereka adalah para penganut ajaran agama Hindu yang taat dan mendedikasikan diri mereka untuk mencapai pencerahan secara spiritual. Pakaian dan atributnya pun sangat nyentrik. Kami tentu saja tidak melewatkan kesempatan ini untuk berpoto dengan mereka.
” Where are you from ?” tanya salah seorang holymen. Kami pun menjawab bahwa kami berasal dari Indonesia dan Holyman itu berkata,” Ahh Indonesia, Bali is in Indonesia. Bali has a lof of Hindus.” Setelah memberikan sedikit uang kami pun melanjutkan perjalanan kami ke sisi lainnya di komplek Pashupatinath Temple.

Di sini kami juga menemukan burning ghat yang terletak di samping sungai suci Bagmati. Kebetulan sedang ada proses kremasi yang sedang berlangsung. Tidak seperti di India di mana kita tidak diperbolehkan untuk mengambil gambar di sekitar burning ghat, di sini kita tidak dilarang untuk memoto. Namun kita perlu sadar diri dengan tidak memoto terus menerus dan menjaga jarak yang cukup jauh untuk menghormati keluarga yang sedang berduka. Kami melihat beberapa anggota keluarga, yang mana semuanya adalah pria, sedang mengelilingi jenazah beberapa kali sebelum upacara kremasi dimulai. Hanya ada keheningan di antara mereka yang sedang melakukan salah satu dari proses ritual upacara suci ini. Setelah kremasi selesai dilakukan, abu akan dikumpulkan dan disebarkan di sungai Bagmati di mana sungai ini akan terus mengalir dan akhirnya menyatu dengan sungai suci Ganges di Varanasi, India.

Tempat Kremasi di Pashupatinath Temple

momoCuaca yang tadinya cerah tiba-tiba saja berubah menjadi mendung. Begitu kami sampai di Swayambunath Temple, hujan pun turun dengan derasnya. Aduhh.. rasanya seperti patah hati kalo udah begini. Kami berteduh di sebuah rumah makan kecil yang menjual makanan khas nepal. Kami memesan semangkuk mie dan sepiring Momo untuk di bagi. Momo adalah makanan khas Nepal sejenis dumpling. Namanya memang terdengar lucu. Momo biasanya berisikan daging cincang dan sayur-sayuran seperti kubis dan kentang. Setelah selama sejam lebih berteduh, akhirnya hujan pun berhenti secara perlahan. Swayambunath Temple terletak di atas sebuah bukit yang cukup tinggi dan ada dua cara untuk bisa mencapainya. Yang pertama adalah dengan menaiki ratusan anak tangga yang lumayan curam dan yang kedua adalah dengan menggunakan taksi. Setelah menimbang-nimbang untung ruginya, kami pun memilih untuk menggunakan TAKSI !! Alasannya adalah.. karena tangga menjadi licin gara-gara terguyur oleh hujan sehingga butuh extra hati-hati untuk menaikinya. Pastinya, nanti akan memakan waktu yang cukup lama untuk bisa sampai ke atas. So, pertanyaannya adalah, andaikan saja waktu itu tidak hujan apakah kami akan memilih untuk menggunakan tangga ? Gak juga sih. haha. Sebenernya liat deretan tangga yang ujungnya aja gak keliatan udah bikin kami males duluan. Maklum udah pada tua nih.
Swayambunath Temple adalah sebuah kuil untuk umat yang beragama Budha sehingga stupanya pun tampak sama dengan stupa yang kami lihat di Boudhanath. Dari setiap empat sisi Stupa terdapat dua mata Budha yang melambangkan kebijaksanaan dan kasih. Di tengah-tengah kedua mata tersebut ada sebuah simbol yang sangat mirip bentuknya seperti tanda tanya namun sebenarnya simbol itu merupakan simbol Nepal yang berarti “kesatuan”. Kami melihat beberapa orang mengitari stupa ini sambil memutar praying wheels. Beberapa bikhsu tua terlihat santai bercakap-cakap menikmati sore. Dari sini kita bisa menikmati pemandangan kota Kathmandu dengan bangunannya yang berwarna warni.

Tradisi Lempar Koin di Swayambunath Temple
(*Amank telah mencoba melempar berkali-kali namun tidak berhasil)

Pemandangan Lembah Kathmandu dari Kuil Swayambunath

Sore itu kami menutup perjalanan kami dengan mengunjungi Durbar Square. Salah satu tempat yang wajib untuk dikunjungi jika anda sedang berada di Kathmandu. Di sini terdapat istana para raja yang dulu pernah berkuasa di Nepal dan beberapa kuil tua yang sudah berumur ratusan tahun. Tempat ini begitu ramai dengan turis asing maupun lokal. Banyak dari mereka duduk di alun-alun untuk hanya sekedar mengobrol dan membiarkan waktu berlalu. Beberapa perayaan penting setiap tahunnya juga masih tetap dilaksanakan di sini. Nah, ada satu hal juga yang menurut saya menarik dari tempat ini. Di Durbar Square inilah seorang Kumari tinggal. Kumari adalah seorang gadis kecil yang dianggap sebagai renkarnasi dari Dewi Hindu yang bernama Durga. Proses pemilihan gadis ini pun tidaklah mudah. Banyak persyaratan dengan beberapa tahapan proses yang harus dilewati oleh seorang gadis untuk bisa dianggap sebagai seorang Kumari. Ketika seorang Kumari mendapatkan menstruasi pertamanya, maka dia pun dianggap menjadi orang biasa lagi dan pemilihan untuk seorang Kumari baru pun segera dilakukan. Setiap harinya selalu ada segerombolan orang yang berkumpul di bawah jendela sang Kumari dengan harapan untuk bisa melihatnya walau cuma hanya beberapa detik. Mereka percaya bahwa dengan melihatnya saja bisa mendatangkan banyak keberuntungan. Kami pun iseng-iseng ikut menunggu. Namun sayang kami tidak melihat apa-apa selain jendelanya yang tertutup rapat.

Kami kembali ke hotel dan menyantap makan malam kami. Perut rasanya udah laper banget. Setelah selesai mandi kami semua pun langsung tertidur pulas. Well.. hari itu saya merasa senang sekali karena sudah bisa berkeliling seharian penuh ke tempat-tempat yang sangat menarik di Kathmandu. Di tulisan berikutnya, saya akan bercerita lebih banyak lagi tentang perjalanan kita di Nepal di kota-kota yang berbeda. See ya !

Advertisements