Once upon a time in New Zealand

~Another trip, another adventure~

Untuk pertama kalinya, kami mendapatkan kesempatan berpetualang di New Zealand. Perjalanan kali ini agak sedikit berbeda dari yang sebelumnya karena kami memutuskan untuk menyewa sebuah campervan dan mengendarainya sendiri mengelilingi bagian selatan negara tersebut.
Kami mengajak serta dua teman baik kami Vincent & Iwan.Β  New Zealand merupakan salah satu negara yang mempunyai dataran paling indah di dunia. Ayuk ikuti perjalanan kami berpetualang di atas empat roda !!

Sebelum pergi kami udah pada sibuk belanja-belanja perlengkapan untuk persiapan climate dingin. Maklum, soalnya baru pertama kali pergi ke negara dengan suhu sedingin ini. Penerbangan menuju ke Christchurch memakan waktu cukup lama dengan rute, Jakarta – Singapore – Auckland – Christchurch dengan total (Β±) 13jam. Kami tiba di Auckland pada jam 11 pagi. Badan rasanya pegel banget karena terlalu lama duduk di pesawat.

Ketidak beruntungan kami alami pada hari itu, dimana pesawat lanjutan kami menuju ke Christchurch dicancel dengan alasan technical problem. Hal-hal kaya gini nih yang bikin jantung jadi deg-degan. Penerbangan yang tersisa hanyalah dengan pesawat Air New Zealand yang mana harga tiketnya pun sangat mahal untuk seukuran kami para backpacker. Mau tidak mau akhirnya kami membelinya supaya schedule kita yang padat tidak terganggu.

Sesampainya di Christchurch jam menunjukan pukul 8 malam. Begitu kami keluar dari Airport, udara terasa begitu dingin menggigit. Wohooo.. Akhirnya kami sampai juga di Christchurch. Perasaan lega yang sangat menggembirakan. Kami menginap semalam di Around The World Hostel. Tempatnya enak banget. Ada dapur yang bisa kita pakai buat masak. Kamar dan toiletnya pun sangat bersih. Salah satu keuntungan dari nginep di hostel adalah kita bisa ketemu para backpackers lainnya dan bertukar cerita.

Malam itu kami berjalan-jalan santai sambil mencari tempat makan untuk mengisi perut yang udah kedengeran musik keroncongnya. Kami melihat beberapa reruntuhan rumah yang hancur disebabkan oleh gempa beberapa bulan sebelumnya. Kami akhirnya menemukan Domino Pizza dan memutuskan untuk menyantap makan malam kami di sana.

Kami bangun dengan penuh semangat 45. Kami sungguh tak sabar untuk merasakan apa yang akan disuguhkan New Zealand untuk kami. Sesampainya di kantor WILDERNESS (tempat kita menyewa campervan), kita sudah ditunggu oleh seorang petugas yang sangat friendly. Penjelasan tentang isi campervan dan ansuransi memakan waktu selama kurang lebih satu jam. Campervan yang kita pakai adalah jenis 6 berth yang bodynya aduhai besar banget. Di dalamnya di lengkapi 3 kasur (satu kasur bisa ditempati untuk dua orang) Dua di antara tiga kasur bisa dilipat dan dijadikan tempat duduk lengkap dengan mejanya. Satu toilet kecil. Wastafel terletak persis bersebelahan dengan kompor gas. Laci-laci sudah terisi lengkap dengan piring, gelas, panci dan perlengkapan memasak lainnya.

acara masak memasak yang kami lakukan setiap hari

Vincent sang koki dan Haidy yang suka ngabisin wine

Tempat perhentian pertama kita adalah supermarket. Di sini kita berbelanja bahan makanan dan keperluan sehari-hari seperti daging, roti, susu,kopi, air mineral, nasi instant dan sebagainya. Nasi instant bentuknya kaya butiran-butiran kecil yang kalo diaduk dengan air hangat bisa berubah bentuk menjadi mirip nasi.

Christchurch to Fox Glacier

Rute perjalanan hari pertama kami adalah menuju ke Fox Glacier. Setelah menyetir selama kurang lebih dua jam, perjalanan kami berubah menjadi menanjak. Jalan agak berliku-liku namun di setiap tikungan tersimpan pemandangan yang sungguh luar biasa. Kami melihat gunung-gunung bersalju yang tampak anggun memberikan suasana damai buat orang yang melihatnya. Waktu kecil saya suka melihat kartu natal atau kalender yang isinya pemandangan-pemandangan seperti ini dan kali ini saya melihatnya secara langsung. Luar biasa keren pemandangannya.

perjalanan dari Christchurch menuju Fox Glacier

Kami mampir di Arthur Pass untuk sekedar meregangkan otot. Niat yang tadinya cuma mampir sebentar akhirnya jadi agak lama. Kami berduduk-duduk di sini menikmati pemandangan sungai dangkal berbatu sambil meminum kopi.

Arthur’s Pass National Park

Pada malam hari kami baru sampai di Gillespies Beach Campsite. Tempatnya gelap banget namun kami masih bisa melihat samar-samar ada beberapa campervan yang sudah datang lebih awal untuk menginap. Di New Zealand ada beberapa campsite yang disediakan gratis dan ada juga yang dikenakan biaya untuk nginep per malamnya. Untuk yang gratis biasanya fasilitas yang diberikan pun sangat basic. Paling cuma disediakan toilet dan biasanya tanpa penerangan yang cukup. Sedangkan untuk campsite yang dikenakan biaya, fasilitasnya cukup lengkap dengan disediakannya listrik untuk recharge ulang battery power supply campervan, pembuangan air kotor dan pengisian ulang air bersih. Pemandangannya juga cenderung lebih bagus.

Kami menyantap makan malam pertama kami di campervan dengan menu spesial (Ind*mie) πŸ˜€

Gillespies Beach

Hujan deras menyambut pagi kami hari itu dan kami berharap setelah sarapan nanti hujan akan berhenti dan memberikan kami kesempatan untuk dapat berjalan-jalan di pantai. Namun hujan tak kunjung reda. Akhirnya kami memutuskan untuk turun dan menuju ke pantai dengan gemeteran (dinginn bangettt). Kami menjumpai banyak batu yang ditumpuk-tumpuk menyerupai pancake.
Setelah puas berjalan-jalan di pantai kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke Te Anau. Sebelumnya kami ingin mampir untuk meliat Glacier namun di depan jalan terpampang tanda peringatan “Not Allowed for Campervan” akhirnya kami mengurungkan niat kami dan kembali melanjutkan perjalanan.

Sangatlah mudah untuk menyetir di New Zealand. Selain stirnya juga stir kanan (sama seperti di Indonesia), petunjuk-petunjuk jalan dan infomasi lokasi pun sangat banyak dan mudah untuk dilihat. Petunjuk-petunjuk seperti lokasi campsite, dump stations (tempat untuk membuang air kotor dari campervan), tempat-tempat yang mempunyai pemandangan bagus, hotel, motel, gas station dan lain-lainnya sangat mudah di dapat di sepanjang perjalanan. Tak heran jika begitu banyak travellers memilih New Zealand sebagai tempat petualangan mereka.

Kami mampir sebentar di West Coast, Haast. Kami menikmati pemandangan laut biru yang luas. Tempat ini sendiri berada di atas tebing yang curam sehingga tidak memungkinkan kita untuk turun. Tempat yang asik untuk peristirahatan sejenak. Di sepanjang perjalanan kami menjumpai beberapa tempat lagi dengan pemandangan yang bagus dan menarik. Namun kami harus bisa menahan godaan untuk tidak berlama -lama di setiap tempat dikarenakan schedule perjalanan yang padat.

Campervan kami mempunyai tiga septic tank. Septic tank yang pertama adalah untuk menyimpan air bersih yang akan dikeluarkan melewati wastafel atau shower dan pembuangan untuk air kotor (grey water) tersebut akan di tampung di septic tank nomer dua. Sedangkan septic tank yang ketiga digunakan khusus untuk menampung hasil buang air besar dan air kecil dari toilet (black water). ewwwwww…. suka atau tidak ketiga septic tank ini harus dibersihkan dan diisi ulang ketika persediaan air bersih menipis dan tampungan air kotor penuh. Semua proses ini hanya bisa dilakukan di dump station. Untuk meminimalkan gejala muntah-muntah, pusing dan bahkan pingsan waktu membuang air kotor ini, kami menyetujui untuk tidak membuang sesuatu yang “padat” di dalam toilet campervan (bagi yang melanggar akan disuruh tidur di luar TANPA SLEEPING BAG !!!).

Kami mampir di gas station untuk mengisi bahan bakar. Di gas station ini kami menemukan pie yang rasanya luarr biasa enak (WAJIB dicoba) dan isi pienya pun bermacam-macam. Ada yang berisi daging, mushroom dan keju.

Di campervan juga disediakan beberapa kursi dan meja piknik. Sayang kan kalo ga dipake. Kami pun memilih untuk memajukan jam makan malam kami dan menyantapnya di sebuah lapangan rumput di pinggir hutan dengan pemandangan gunung bersalju di belakangnya. Dengan menu Spaghetti dan sebotol wine murah yang kami beli di supermarket, kami betul-betul menikmati makan “malam” kami pada saat itu. Kami juga memutuskan untuk berpetualang masuk ke dalam hutan dan menemukan sebuah sungai dangkal yang berbatu. Setelah mencicipinya, kata Vincent airnya seger banget.

makan sore dengan pemandangan cantik seperti ini !!!

Menyetir pada malam hari di Christchurch memberikan pengalaman unik tersendiri. Sudah gak terhitung lagi berapa kali kami dikagetkan oleh kelinci dan musang yang menyeberang jalan secara tiba-tiba. Terlihat banyak sekali bangkai-bangkai binatang lucu yang super imut ini tergeletak di jalan gara-gara menjadi korban tabrak lari. Sesampainya di daerah Lake Te Anau, saya kembali melihat seekor kelinci liar di halaman sebuah rumah. Saya pun langsung turun dari mobil dan mengendap-ngendap untuk menangkapnya. Rencana sih mau dikasihkan buat Amank yang kebetulan pada malam itu sedang berulang tahun. Namun si kelinci itu langsung meloncat dan hilang di kegelapan malam dalam hitungan detik. Padahal saya sudah berjarak hanya beberapa meter saja dari kelinci itu.

Malam ini kami menginap di campsite gratis yang terletak dipinggir sebuah danau. Setelah makan malam, kami semua langsung tertidur pulas.

Milford Sound

Kami menyempatkan diri untuk berjalan-jalan di sekitar campsite sebelum meneruskan perjalanan kami menuju ke Milford Sound.

Campsite di dekat Milford Sound

Perjalanan yang harus dilalui cukup jauh. Pada awalnya, kami hanya melihat hutan di kiri dan kanan. Pemandangan yang agak membosankan. Namun setelah kami menyetir cukup lama, kami menemui hamparan padang rumput yang luas dan gunung-gunung dengan selimut saljunya yang khas. Setelah melewati sebuah terowongan panjang, pemandangan langsung berubah menjadi tebing-tebing tinggi. Beberapa air terjun kecil terlihat di sela-sela pepohonan yang menutupi tebing-tebing tersebut. Tiba-tiba hujan salju pun turun. Wohoooo..!!! Inilah saat yang kami nanti-nantikan. Salju terlihat semakin banyak dan kami pun turun di pinggir jalan. Kami begitu gembira dan mulai lempar-lemparan bola salju. Akhirnya kami merasakan juga bagaimana rasanya berdiri di tengah-tengah hujan salju yang jatuh dan akhirnya meleleh membasahi jaket kami (norak dikit gpp dech hehe).

beberapa kilometer mendekati Milford Sound

Milford Sound adalah sebuah destinasi wajib buat mereka yang sedang berada di South Island. Milford Sound sendiri adalah air laut yang membentang sepanjang 15km ke pedalaman yang dikelilingi oleh tebing-tebing tinggi dan hutan. Kami membeli tiket dan berkeliling dengan menggunakan sebuah kapal. Kami melihat dari dekat dan merasakan percikan air terjun yang deras jatuh dari ketinggian 155 meter. Anjing laut juga dapat terlihat santai di atas bebatuan. Namun sayang cuaca pada saat itu sedang tidak bersahabat. Hujannya deras dan angin bertiup kencang. Tebing-tebing tinggi memilih untuk bersembunyi di balik kabut.

Pelabuhan di Milford Sound

Queenstown

Kami sampai di Queenstown pada malam hari dan mampir di McDonald’s untuk mengisi perut. Setelah kenyang, kami langsung menuju ke pusat kota untuk melihat-lihat. Hampir semua toko sudah tutup dan hanya beberapa bar saja yang masih buka. Queenstown adalah salah satu destinasi favourite bagi banyak orang. Beberapa tempat di sekitar sana pernah dipakai untuk lokasi shooting film-film terkenal. Contohnya saja, film Lord of the Rings dan X- Men. Tidak hanya itu saja, para adrenaline junkie pun bisa melakukan bungy jumping, canyon swinging dan jet boating. Kami berjalan kaki di sepanjang dermaga. Hanya terlihat beberapa orang di sana. Di tengah-tengah kesunyian kami melangkah dan hanya diterangi oleh deretan lampu kuning dermaga. Tempat ini saya sarankan pas banget deh buat yang mau honeymoon.

Malam itu kami sih sudah berusaha untuk mencari campsite yang gratis namun tidak kunjung ketemu. Akhirnya kami menyerah dan dengan rela merogoh kocek untuk menginap di campsite yang dikenakan biaya per orangnya. Di campsite ini disediakan amplop, form dan sebuah kotak yang disebut “Honesty Box”. Kita akan mengisi data diri kita dan memasukannya ke dalam amplop berserta dengan biaya tarif menginap yang dihitung per orang. Terus amplop itu tinggal kita masukkan ke honesty box dan kita sudah boleh menginap.
Perjalanan yang cukup melelahkan pada hari itu membuat kita semua dengan cepat terlelap begitu menyentuh kasur.

Kami tidak bisa meminta lebih ketika kami membuka mata pada pagi hari itu dan melihat pemandangan di luar yang sungguh mempesona. Pemandangan yang tidak kami sadari di malam waktu kami tiba di campsite. Ternyata kami menginap di tepian sebuah danau yang tenang. Beberapa pohon besar berdiri kokoh. Di kejauhan terlihat gunung yang berselimutkan salju putih. Sebuah kapal kecil di tengah danau dan beberapa bebek yang berenang juga turut menyambut pagi. Ahhh.. rasanya kami sanggup untuk duduk-duduk di sini seharian tanpa melakukan apa pun.
Di kaca depan campervan tertempel sebuah amplop yang mengucapkan terima kasih atas kejujuran kami untuk membayar tarif menginap dan karena kami membayar tidak dengan uang pas, di dalam amplop tersebut diisi uang kembalian kami oleh si pemilik campsite.

tempat campsite kami di Queenstown

Pemandangan tepat di depan Campsite

Hampir setiap saat New Zealand selalu memberikan pemandangan-pemandangan indah yang seakan tak kunjung habis. Namun menurut kami, perjalanan dari Queenstown menuju ke Lake Tekapo adalah perjalanan dengan pemandangan terbaik selama kami berada di South Island. Kami melihat beberapa perternakan domba dan deretan perbukitan sambung menyambung dilapisi oleh salju di beberapa bagiannya. Di sini kita berhenti sebentar dan bermain-main di bawah kaki bukit.

mirip kaya di kartun Shaun the Sheep

Selama dalam perjalanan ini kami sangat bergantung pada GPS dan peta. Tidak bisa kami bayangkan kalo kami harus jalan tanpa dua benda tersebut. Navigator kami, Amank dan Vincent, sangat rajin melihat-lihat peta untuk menemukan tempat-tempat yang menarik di sepanjang perjalanan. Di perjalanan dari Queenstown menuju Lindis Valley, Vincent menyarankan supaya kami mengambil shortcut melewati sebuah jalan kecil. Kami sempet ngomel-ngomel sama Vincent karena jalan yang dilewati ternyata adalah jalan berbatu dan terjal. Namun setelah beberapa saat menyetir, kami dikagetkan oleh pemandangan sebuah ngarai. Di bawah terlihat jelas sungai mengalir dengan airnya yang biru seperti crayon saya waktu sd. Kami turun dari campervan dan melompati pagar pembatas (ada tulisan NO TRESPASSING). Sebetulnya kami agak berat hati melakukan hal tersebut tapi kapan lagi coba kita bisa nikmatin pemandangan seperti ini. Seperti kata pepatah bilang β€œIf you obey all the rules, you miss all the fun”. hehehe

Secret place di perjalanan menuju Lindis Valley

Lindis Valley

Lindis Valley

Mt. Cook Alpine Salmon

Makan salmon di Alpine Salmon Farm sudah tentu menjadi agenda penting dalam perjalanan ini. Memang ada beberapa peternakan salmon di sekitar sini. Tetapi makan salmon di Alpine Salmon Farm akan memberikan sesuatu yang berbeda. Perternakan salmon ini adalah perternakan salmon yang paling tinggi yang ada di dunia. Kita dapat membeli daging salmon yang masih segar dan memakannya di tempat. Dari sini kita dapat melihat Mount Cook, gunung tertinggi yang ada di New Zealand. Gunung yang menjulang tinggi berwarna putih karena tertutup oleh salju. Anggun dan indah begitulah kami melihatnya.

Β fresh sashimi salmon
PeternakanΒ  Mt Cook Alpine Salmon (677m above sea level)

Lake Tekapo

Lake Tekapo adalah salah satu danau terbesar yang ada di South Island, New Zealand. Begitu sampai, kami langsung jatuh cinta dengan danau ini. Bagaimana tidak, danau ini mempunyai warna turquoise dan seumur hidup baru kali ini kami melihat danau dengan warna segar sepert ini. Di belakangnya terlihat deretan pegunungan. Di tepi danau terletak sebuah gereja kecil yang bernama The Church of the Good Shepherd. Gereja ini pertama kali dibangun pada tahun 1935. Sebuah gereja tua yang masih berdiri kokoh dan masih digunakan hingga saat ini. Kami makan malam di parkiran depan gereja. Vincent memasak steak yang betul-betul enak rasanya. Thanks mate !!

Lake Tekapo

Church of the Good Shepherd

Lagi-lagi kami kesulitan mencari camping site pada malam itu. Akhirnya kami memutuskan untuk menginap di bawah sebuah jembatan dekat dengan bantaran sungai. Perlu diketahui, apa yang kami lakukan ini adalah illegal dan kami bisa didenda jika ketahuan oleh polisi setempat. Supaya tidak ketahuan, kami memarkir campervan di dekat semak-semak dan langsung mematikan semua lampu. haha. Suasananya lumayan serem dan mencekam nih.

tempat menginap terakhir di New Zealand (secara illegal)

Last day in New Zealand

Seperti pada pagi di hari-hari sebelumnya, suhu di luar sangat dingin sekali. Embun pagi pun masih berbentuk es dan menempel di dedaunan yang gugur dan rerumputan (kalo diinjek bunyinya kriyuk-kriyuk seperti nginjek kerupuk).

Hari ini, kami harus kembali ke Christchurch dan mengembalikan campervan yang kami sewa. Sebelum campervan dikembalikan, semua septic tank yang menampung air kotor harus dibersihkan. Kami mampir di sebuah dump station. Dump station ini ternyata mempunyai sebuah taman dan kolam yang besar. Banyak pohon-pohon tinggi berdiri kokoh di sekitar kolam, beberapa bebek dan angsa berenang bebas. Kami juga menemukan sebuah rel kereta api yang tampaknya sudah tidak digunakan lagi.

Di dalam perjalanan kami pulang, kami melewati sebuah perternakan babi dan berpoto-poto ria. Babi di sini lucu-lucu dan gendut-gendut.

Sesampainya di Wilderness, kami merasa agak sedih karena harus berpisah dengan campervan kami. Campervan ini sudah menjadi teman perjalanan yang baik, sebuah rumah bagi kami dan sudah membawa kami ke tempat-tempat yang luar biasa. Kami diantarkan oleh seorang staff dari Wilderness menuju ke Christchurch Airport. Di mana kami akan menginap semalam di airport sebelum meneruskan perjalanan pulang keesokan harinya.

Bagi yang hobby nginep di airport ( alias lagi ngirit ), airport di Christchurch merupakan salah satu tempat terbaik untuk bermalam. Tidak seperti airport-airport pada umunya, di sini disediakan hot shower dan bahkan kita bisa menyewa handuk untuk mandi. Sebuah area khusus disediakan untuk para tamu yang menginap. Tempatnya cuma dilantai dan kami pun menggunakan sleeping bag untuk tidur.

Singapura

Perjalanan yang lama kembali harus kami lewati dari Christchurch menuju Singapura. Di Singapura kami menginap di sebuah hostel yang bernama Rucksack Inn yang terletak di kawasan Lavender. Hostelnya bersih dan nyaman. Di sini disediakan komputer dan dapur yang bebas untuk digunakan oleh para tamu. Tak jauh dari hostel juga terletak sebuah food court besar yang berisikan berbagai macam makanan khas singapura.

Home Sweet Home

Kami kembali pulang ke Indonesia. Rasanya udah gak sabar untuk cepet-cepet kembali pulang ke rumah dan tidur di kasur yang biasa kita gunakan. Kami mengucap puji dan syukur atas perlindungan-Nya selama kami berpetualang di South Island, New Zealand.

Hidup di atas empat roda sungguh sangat menyenangkan dan penuh akan kejutan. Kapan lagi kami bisa makan pagi di tepi sungai dengan pemandangan deretan gunung, dilanjutkan dengan makan siang di padang rumput dan makan malam di tepi danau. Esok harinya akan berbeda tergantung dengan selera kita. Pertualangan ini akan selalu membekas di hati kami. New Zealand sudah memberikan begitu banyak pengalaman lebih dari apa yang kami kira. Kami sungguh terpesona oleh keindahan alam yang mana kami kira hanya ada di negeri dongeng. Thank you New Zealand !!

Sampe ketemu di petualangan kami berikutnya ya !!

Thanks for reading. =)

~Haidy~

Advertisements