behind the lens : L’ile De JAVA

Akhirnya impian kami terkabul juga. Ini adalah trip perdana kami berkeliling ala backpacker. Tujuan kami adalah mengunjungi empat kota di Jawa Tengah. Kenapa sih Jawa Tengah ? well,, dari yang kita denger Jawa Tengah merupakan salah satu tempat di mana kebudayaan Indonesia masih kental terasa dan tentunya masih banyak terdapat bangunan-bangunan tua yang bersejarah cermin dari Indonesia pada masa lampau.

SEMARANG

Kita sampai di Semarang dengan penerbangan flight malam. Seperti biasa khas penerbangan murah di Indonesia, pesawatnya didelay dengan alasan ganti ban. (jangan kaget kalo besok2 alesannya ganti sayap). Kami menyempatkan malam itu untuk berjalan-jalan di Semarang Atas. Di sini terdapat beberapa tempat makan yang bisa disesuaikan dengan kantong masing-masing. Mulai dari jajanan malam seperti roti bakar sampai ke café-café yang agak mahal. Setelah melihat-lihat akhirnya kami memutuskan untuk masuk ke sebuah restoran besar. Halamannya luas dan beberapa pelayannya berdiri tegap siap menyambut para pelanggan. Namun kami tidak ke restoran ini untuk makan, melainkan hanya untuk nebeng motret pemandangan kota Semarang di malam hari dari tempat parkirannya doang Hehehe. Dari sini kita bisa menikmati pemandangan melihat kerlap-kerlip lampu kota Semarang. Beberapa pasangan terlihat santai berpacaran di atas sepeda motor mereka menikmati suasana malam yang romantis. Sebelum kembali pulang ke Guest House, kami menyempatkan untuk mencicipi makanan khas Semarang yaitu Babat Gongso. Lezat banget, empuk dan gurih.

babat Gongso Semarang
  Guest House Duta Mahendra – Semarang

Siapa sih yang gak pernah dengar Lawang Sewu. Sebuah tempat tua yang pernah dipakai beberapa kali untuk lokasi shooting film horror. Lawang sewu adalah sebuah bangunan kuno peninggalan jaman Belanda yangg dibangun pada tahun 1904. Tempatnya sih menurut kami gak begitu horror-horror banget. Mungkin karena kami perginya pada siang hari kali ya dan juga banyak pengunjung yang datang. Pokoknya yang suka ama bangunan tua wajib ke sini nih. Arsitektur bergaya art deco begitu memanjakan mata. Koridor-koridor dibangun lebar menunjukan betapa banyaknya orang yang berlalu lalang pada jaman itu. Berjalan-jalan di koridor ini membuat kita seolah-olah terlempar ke masa lalu. Disarankan sih supaya make guide soalnya tempatnya guede banget. Kan ga lucu kalo nyasar ampe malem ga bisa ketemu jalan keluar. Itu baru horror Hahaha. Sayang sekali ruangan bawah tanah di mana para tahanan disiksa pada jaman dulu itu sedang ditutup dengan alasan pemugaran.

Lawang Sewu – Semarang

Selain babat gongso, makanan khas Semarang yang tak kalah terkenalnya adalah Lumpia di kota tua. Beberapa kali kedai Lumpia ini masuk di acara wisata kuliner di tv. Masing-masing dari kami memesan satu lumpia dan segelas teh. Masih di daerah Kota Tua, kami berjalan kaki mengunjungi Gereja Blenduk. Gereja yang pada awalnya dibangun berbentuk heksagonal ini adalah gereja tertua di Jawa Tengah. Gereja dibangun pada tahun 1753 dan masih aktif digunakan sampai sekarang. Sebelum kami berangkat memulai perjalanan ini, salah seorang temen kami menyarankan supaya kami mencoba tahu di Semarang nanti. “Pokoknya wajib dicoba deh.. Tahu nya ENAK BE GE TE” kata teman kami itu. Dengan alamat seadanya dan rasa penasaran, kami menuju ke sana dengan berjalan kaki. Demi sepotong tahu yang enak itu kami rela menempuh jarak yang jauh melewati beberapa persimpangan, pasar, deretan tukang bajai dan sampai kaki saya nginjek kubangan lumpur. Akhirnya kami menemukan kedai tahu tersebut. Kami memesan tahu dengan perasaan gak sabar untuk makan. Namun di luar dugaan kami, tahu nya yang dibilang ENAK BE GE TE itu terasa hambar walaupun sudah kami campur dengan kecap asin, kecap manis dan sambel. (-_-“) Mungkin memang lidah kami aja yang kurang cocok kali ya.

Tahu Pong – Semarang

SOLO

Dengan menggunakan Mini Bus kami berangkat menuju ke Solo. Sebuah kota keraton yang batiknya terkenal sampai ke luar negeri. Berkat saran dari supir, kami menemukan tempat menginap di sebuah hotel kecil yang baru buka. Harganya terjangkau dan kamarnya pun sangat bersih. Kami menghabiskan malam kami dengan berjalan-jalan santai menyusuri Jalan Slamet Riyadi. Jalan lurus dengan trotoarnya yang lebar merupakan salah satu jalur utama di kota Solo. Desa Laweyan adalah salah satu kampung batik tertua yang ada di Indonesia. Di sinilah pusat perdagangan dan pengolahan batik Jawa berada. Setelah membeli beberapa potong baju batik, kami meminta ijin kepada pegawai toko tersebut untuk dapat melihat bagaimana sih batik itu dibuat. Sungguh gak gampang bikin batik. Prosesnya bisa memakan waktu dari hitungan hari sampai hitungan bulan. Sebuah kebanggan Indonesia mempunyai batik. Salah satu makanan lokal yang terkenal di Solo ini ternyata adalah ceker ayam. Kata Amank sih rasanya lumayan enak. Saya sendiri memilih untuk mencoba nasi gudeg.

Pengrajin Batik di Desa Laweyan

Hotel Tiara – Solo

Gudeg Ceker khas Solo

Magelang

Dari Solo kami naik kereta api menuju Jogja dan diteruskan dengan menyewa taksi untuk mengantarkan kami ke Magelang. Harga tiket kereta api hanya dikenakan rp. 8.000 / orang. Pengalaman kami naik kereta api yang pertama kalinya di Indonesia. Tidak seperti kereta api yang di mana para penumpangnya pada berjubel kayak sarden dan sampe lebih milih untuk duduk di atap, kereta api yang kami naiki ini lumayan bersih. Pemandangannya pun sungguh mempesona karena kami duduk tidak jauh dari seorang cewek cantik berbaju putih. =) Di Magelang kami menyewa sebuah mobil Suzuki Carry dan seorang guide. Guide kami ternyata mempunyai sebuah warung mie yang cukup terkenal. Walaupun tempatnya agak masuk ke dalam gang namun yang datang dan makan di sana kebanyakan pada naik mobil semua. Tidak perlu diragukan lagi, mie buatan Pak Parno ternyata emang enakkk banget. Untuk muter-muter di sekitar Magelang pada malam hari, kami dipinjami sebuah sepeda motor Honda tahun 80an. Ternyata sepeda motor ini pun tak kalah terkenalnya dengan warung mie punya sang pemilik. Beberapa kali kami dihampiri oleh orang yang menanyakan kenapa sepeda motor Pak Parno bisa sampe di tangan kami. Kalo saya sih lebih menyalahkan si Amank. Soalnya mukanya emang mencurigakan. Hehehe.

Melihat pemandangan matahari terbit dari Bukit Stumbu sungguh sangat menakjubkan. Untuk sampai ke atas bukit memang diperlukan sedikit pengorbanan. Trekkingnya sih gak terlalu lama namun cukup melelahkan. Kita berdua udah ngos-ngosan pada saat mencapai puncak. Sedangkan guide kami dengan mengenakan sarung sambil mengisap rokok kreteknya terlihat santai-santai saja. Candi Borobudur dapat terlihat samar terselimuti kabut dari atas bukit. Setelah menunggu beberapa saat, matahari pun muncul perlahan. Hutan yang tadinya nampak berwarna ungu berganti menjadi oranye. Candi Borobudur terlihat sangat cantik dan menawan. Tidak setiap hari kita dapat memulai hari yang baru dengan sarapan pemandangan seindah ini. Magelang juga terkenal akan kerajinan keramiknya. Kami mampir di sebuah desa untuk melihat cara pengolahannya. Beberapa pengerajin terlihat sibuk membentuk tanah liat dengan menggunakan meja bundar yang mereka putar dengan kaki. Banyak sekali kendi-kendi tersusun rapi untuk proses penjemuran. Selanjutnya kami diantarkan ke sebuah desa di mana para pengerajin anyaman bambu berkumpul. Kami masuk ke dalam salah satu rumah dan menyaksikan seorang ibu dengan jarinya yang terlatih menganyam tikar. Di desa ini, kami numpang makan di salah satu rumah warga. Bukannya meminta bayaran, bapak yang punya rumah justru meminta maaf atas hidangannya yang sederhana itu. Menurut kami, ini adalah salah satu makan siang kami yang paling enak selama di dalam perjalanan. Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada bapak tersebut atas jamuan dan kehangatannya dalam menerima kami. Sebelum berpamitan kami menyempatkan untuk berpoto-poto ria bersama anak-anak di desa itu.

Pondok Tingal – Magelang

Sunrise di Bukit Stumbu – Magelang
bersama gaet kami Pak Parno
Bersama anak-anak dan Vespa kesayangan mereka di Magelang

Jogjakarta

Yogyakarta, Ngayogyakarta, Jogja ataupun Jogjakarta. Apapun nama panggilannya semuanya tertuju ke satu kota yang sama. Kami sudah mengitari beberapa jalan kecil di kawasan Malioboro namun masih belum dapat menemukan tempat penginapan. Semuanya fully booked oleh para turis mancanegara maupun turis dalam negeri yang ingin menghabiskan akhir pekannya di kota ini. Sebuah pelajaran yang harus kami petik untuk mempersiapkan tempat penginapan sebelum keberangkatan. Kami berpindah tempat ke Prawirotaman dengan harapan bisa menemukan hotel yang murah. Namun pencarian kami berakhir di Hotel Duta Jogja yang bergaya bungalow yang senilai kurang lebih Rp. 400rban semalam. Apa boleh buat, kaki kami sudah tak sanggup lagi berjalan menenteng backpack dan peralatan kamera dari sore sampe malem. Sekali-sekali deh nginep di hotel yang mahalan dikit.

Hotel Duta – Jogjakarta

Melihat pertunjukan wayang orang seru juga. Salah satu kesenian yang terkenal di kota ini. Pertunjukan ini diselipi beberapa atraksi akrobatik yang lumayan seru. Sebelum acara di mulai, kami meminta ijin untuk dapat melihat suasana di belakang panggung. Di dalam ruangan yang berlampu kuning pudar itu, kami melihat beberapa pria sedang merias diri memakai bedak dan gincu. Ada juga beberapa orang sedang duduk santai sambil meminum kopi menunggu giliran mereka untuk merias diri. Kami duduk dan berbincang-bincang dengan beberapa dari mereka. Kami juga menyempatkan untuk pergi ke alun-alun. Namun pada malam itu sedang ada konser yang menyebabkan kemacetan di sekitar sana. Kami hanya berjalan-jalan sebentar dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke hotel dengan menggunakan becak.

Sekian catatan sederhana tentang perjalanan kami berpetualang di Jawa Tengah. Tempat dimana orang-orangnya murah senyum dan bersahaja. Yang jelas, perjalanan perdana kami ini membuat kami untuk ingin terus berpetualang ke tempat-tempat lainnya. Sampe ketemu di cerita kami lainnya ya !

– HAIDY –

untold Story by AMANK

Setelah mengunjungi Lawang Sewu di Semarang, tujuan berikutnya adalah Klenteng Sampokong dan berdasarkan anjuran dari gaet kami di Lawang Sewu, dia menyarankan kami untuk menggunakan becak kenalanannya. Katanya dengan mengendarai becak di Semarang itu bisa sambil santai mengelilingi kota Semarang sambil menikmati semilir angin kota. Tarif yang diminta pun tidak murah yaitu sekitar 100rb untuk rute Klenteng Sampokong & Gereja Bleduk. Terbuai dengan bujuk rayunya dan mungkin karena pengaruh euforia telah berhasil mendapatkan beberapa gambar bagus Lawang Sewu, akhirnya kami manggut saja. Namun, keputusan yang kami ambil tersebut benar-benar salah, bayangkan saja abang becaknya sudah tua, kondisi jalan di Semarang yang naik turun, ukuran becaknya kecil sekali untuk ukuran pantat bahenol saya dan Haidy, serta hujan yang turun tiba-tiba  turut menambah kenikmatan perjalanan saat itu. (-.-“)

Klenteng Sampokong – Semarang
Advertisements