Once upon a time in India (day 5)

Morning call dari hotel membangunkan istirahat nyaman kami. Subuh itu kami harus bangun lebih pagi dari kemaren dan perjalanan panjang pun sudah menanti untuk kami lalui.

5. Perjalanan Panjang Menuju Pushkar

Perjalanan hari ini dimulai dari Stasiun Old Delhi (DLI). Jaraknya terletak lebih jauh dari Stasiun New Delhi (NDLS). Jalan-jalan di kota Delhi masih sepi subuh itu. Sopir kami memberitahu bahwa pada hari itu akan ada acara perayaan Hari Kemerdekaan yang menyebabkan beberapa jalanan ditutup.

Sebenarnya beberapa orang yang kami temui menyarankan kami untuk tinggal lebih lama di Delhi. Di Hari Kemerdekaan India akan ada banyak festival menarik yang dapat kami lihat. Tetapi kami menolaknya karena lebih memilih untuk melanjutkan perjalanan kami dan lagian tiket-tiket kereta sudah kami beli jauh-jauh hari sebelum kami tiba di India.

Setelah sampai di Stasiun Old Delhi (*yang jauh lebih besar dari pada NDLS), lagi-lagi kami kesulitan dalam mencari platform kereta. Nomer platform kereta yang kami cari tidak ada. Untungnya ada seorang polisi yang berbaik hati membatu (MEMBANTU) kami mencarikan platform yang kami tuju. Ternyata platform kami itu berada agak jauh dan kami tidak melihat adanya petunjuk arah yang tertulis.

Musim dingin di India kala itu memang membuat menggigil (*mungkin sekitar 10 derajat di pagi hari). Di kiri kanan, kami melihat banyak orang yang sedang menunggu kereta sambil tidur-tiduran dengan selimut tebal menutupi tubuhnya (*kayak orang lagi berkemah..hehehe).

Tampaknya kereta kami mengalami keterlambatan lagi. 30 menit berlalu dan kereta masih tak kunjung datang. Kami memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar stasiun itu. Saat itu kami belum sarapan dan memutuskan mencari sesuatu yang dapat disantap pagi itu. Tanpa di duga kami menemukan McD disana. Menu-menu tampak berbeda dengan McD yang ada di Indonesia. Ahhhh… namun sayang beribu sayang, McD nya tutup padahal di situ tertulis open 24hours (-.-“)

Kami akhirnya menuju ke sebuah counter makanan lainnya. Kami Membeli dua cheese sandwich, kopi dan chai. Kami duduk dan menyantap sarapan sederhana kami di ruang tunggu. (*disetiap stasiun kereta rata2 memiliki ruang tunggu private, jadi kalo kita membeli tiket dengan kelas AC tier, kita dapat menggunakan ruang tunggu private tersebut). Ruangannya lumayan besar dan terdapat banyak kursi disana, tv, ac, dan toilet. Penjaganya juga ramah, dia berkata bahwa dia akan memberi tahu kita kalau keretanya datang.

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya kereta kami tiba juga. Bersama kami ada juga teman baru seorang traveler perempuan asal jepang. Orangnya ramah dan suka sekali bilang, “oohh..thank you…thank you…” dengan berulang-ulang. Tempat tidur kami berdekatan. Kelas AC tier 2 yang kami pilih berisikan tempat tidur tingkat. Tersedia juga gorden untuk menutupi tempat tidur. Hal yang aneh terjadi disini, dimana tempat tidur Haidy ditempati oleh Ibu paruh baya yang tiketnya juga memiliki nomer yang sama dengan Haidy. Entah mengapa hal itu bisa terjadi tapi itulah yang kami alami disana. Untungnya tujuan perjalanan ibu itu tidak jauh dan atas rekomendasi salah seorang karyawan train yang sedang ada disitu, Haidy bisa menunggu di tempat tidur yang lain yang masih kosong sampai ibu itu turun dari kereta.

Perjalanan dari New Delhi ke Ajmer cukup jauh (441 km atau sekitar 8 jam perjalanan). Karena Ajmer adalah tujuan terakhir dari kereta kami, maka kami cukup tenang dan tidak khawatir akan kelewatan stasiun tujuan. Yang kami lakukan di kereta itu hanyalah tidur dan tidur. Ketika hari sudah siang, kami bangun dan menikmati pemandangan di jendela kereta. Yang kami lihat saat itu adalah tanah-tanah gersang, orang-orang yang sedang buang hajat (*kayaknya ini khas deh, selalu ada disetiap perjalan kereta kami..hahaha..), warga-warga yang sedang asyik bermain cricket. Terkadang ada juga rerumputan hijau dengan sebatang pohon (mirip pohon oak) berdiri dengan gagahnya. Tak kalah juga bunga-bunga berwarna kuning turut menghiasi alam perjalanan kami.

Kereta kami mulai melambat ketika memasuki kota Jaipur, tampak kami lihat banyak bangunan-bangunan berwarna merah muda. Pantaslah kalau kota ini mendapat julukan “Pink City”. Kereta tepat berhenti di stasiun kereta di Kota Jaipur, yang artinya perjalanan kami ke kota Ajmer tinggal sekitar 120km lagi. Sahabat baru kami traveler cewe asal Jepang itu pun berpamitan kepada kami. Tak lupa dengan gaya khasnya dia berkata “oohh..thank u..thank u…” 😀 (*aku cukup kagum dengan cewe Jepang yang kira2 umurnya sekitar 35than ini, dia traveling di India ini sendirian, ahh..saya saja kalo disuruh sendirian masih mikir2 gan, bukannya apa…saya takut diapa2in…wekekeke – kidding)

Pelan-pelan kereta mulai bergerak lagi, bangunan-bangunan merah muda itu pun semakin jauh dari pandangan kami. Selama 2,5jam perjalanan berikutnya ini, aku hanya tidur2an saja, sedangkan Haidy sedang asyik menulis dengan laptopnya (*mmm…menulis atau berpura2 menulis..:D)

Sebelum turun dari kereta, orang yang juga bekerja di kereta itu berpesan bahwa untuk ke kota Pushkar cara ekonomisnya adalah dengan naik Bis antar kota. Tarifnya pun sangat murah, ia juga menjelaskan bahwa dari stasiun kereta di Ajmer ke stasiun Bis nya hanya berjarak 500m yang menurutnya dapat kami tempuh dengan berjalan kaki.

Sialnya kami percaya saja dengan perkataannya. Setelah keluar dari stasiun kereta, kami langsung berjalan kaki sesuai dengan arahan orang itu. Di kiri kanan jalan tampak banyak sekali toko-toko berjejeran. Dari toko handphone, elektronik, garmen, dll. Sesekali kami berhenti dan bertanya kepada penjaga toko untuk sekedar memastikan bahwa arah jalan kami sudah benar. Rata-rata mereka menjawab “Yes, you are right, go straight, 10 minutes walk…” Kami pun terus berjalan. Dalam hati kami, ini sudah lama sekali rasanya jalan kaki tapi kok ngga sampe-sampe.  Sepertinya orang india rata-rata suka berkata tidak jauh padahal jauh, dan bilang jauh padahal tidak jauh (*kasus rickshaw di Taj Mahal) Haha.

Setelah perjalan yang cukup melelahkan (*karena selain backpack, kami juga membawa peralatan kamera2 kami) akhirnya kami sampai juga di stasiun Bisnya. Tempatnya agak sedikit tersembunyi dari jalan besar dan ukuran terminalnya juga tidak terlalu besar. Kami membeli tiket seharga 10 rupee / org. Rp.3.000,- untuk sebuah perjalanan sejauh 20km, murah khan..:D

Perjalanan menuju Pushkar cukup ‘mengasyikan’. Ditambah lagi kondekturnya yang rada galak dan rada sewot karena kami memakan space satu kursi hanya untuk menaruh tas2 kami. Alhasil selain harus berdesakan dengan para penduduk lokal kami juga diharuskan berdesakan dengan barang2 kami sendiri (backpack, tas kamera, tas tripod) karena di bis tersebut tidak disediakan tempat penyimpanan tas seperti pada bis2 yang sering kita temui di Indonesia. Jadi lah kami saat itu “daging sarden asia” hahaha,,,

Dari sela2 tas backpack aku melihat bukit2 tandus dan gersang dihiasi pepohonan kaktus yang  beraneka ragam (dah berasa kaya di film2 koboy).

Setelah 20menit perjalanan akhirnya kami sampai juga di Pushkar, kedatangan kami langsung disambut para sopir rickshaw. Rickshaw di Pushkar ini lebih unik, bentuknya tidak seperti  rickshaw pada umumnya tapi lebih mirip gerobak buah (*kebayang ngga, jalan2 keliling kota naik gerobak buah…ahahhaa). Tentu saja tawaran dari para sopir rickshaw itu kami tolak dan kami lebih memilih untuk berjalan kaki (meskipun kami juga tidak tahu dimana letak hotel kami, tapi kami selalu berpegang teguh pada motto traveling kami “ Di Mana Masih Ada Orang, Kita Tak Akan Tersesat ” hahaha) . Haidy membeli sekotak rokok sambil bertanya dimana lokasi penginapan kami. Setelah mendapat petunjuk dari warga tadi, kami melanjutkan perjalanan kami dengan berjalan kaki.

Cukup gampang menemukan penginapan kami itu, karena Inn Seventh Heaven adalah salah satu tempat penginapan yang terkenal disana. Harga, service dan fasilitasnya sangan memuaskan. Bangunan penginapan ini juga sangat unik, perpaduan arsitektur Persia dan India. Setelah check in dan menaruh peralatan kami di kamar, kami naik ke lantai paling atas bangunan ini. Di sana terdapat resto yang bernama “The Sixth Sense”.

The Sixth Sense Restaurant

View dari The Six Sense Restaurant

The Sixth Sense juga adalah salah satu restoran terkenal di kota Pushkar (selain Baba Resto yang lebih murah dari The Six Sense). Selain para pelayan yang ramah dan friendly, menu makanan yang ditawarkan juga sangat bervariatif (namun harganya agak mahal). Sangat tidak mungkin menemukan makanan “carnivora” dikota Pushkar ini. Semua makanan di pushkar adalah vegetarian, bahkan untuk menu omelet pun di situ tertulis ‘Vegetable Omelet” (no egg).

Dihotel ini juga terdapat “cleaning service lucu”. Anjing yang cukup besar sejenis Herder peliharaan si pemilik penginapan yang sangat jinak bernama “Bhalu”. Jadi setiap makanan kami  yang jatuh kelantai, si Bhalu dengan sigap akan segera membersihkannya..hahaha…

Setelah menyantap vegetarian pizza, kami mulai mengeksplorasi kota Pushkar. Di kiri kanan semuanya toko dan toko. Bisa dibilang ini adalah surga bagi yang hobby belanja. Banyak sekali wisatawan asing berseliweran. Para traveler dengan rambut gimbal, brewok, kucel (hippy) juga turut menghiasi sudut2 jalan di kota ini. Seperti biasa di setiap perjalanan kami, disini juga kami sering mendapatkan pertanyaan yang sama “are you Korean ?, Japan ?, China ?”

Kami menghabiskan sore kami di kawasan Holy Lake. Daerah di sekitar danau ini dipenuhi dengan bangunan-bangunan temple yang unik. Burung dara yang sangat banyak jumlahnya berterbangan mendekati warga sekitar yang tampak asyik menaburkan makanan.

Kami menikmati indahnya matahari terbenam di pinggiran Holy lake. Banyak traveller juga melakukan hal sama. Sepertinya ini adalah lokasi favorit untuk menikmati sunset. Kami juga melihat di dekat kami ada sebuah café yang bernama “sunset café”. Memang sepertinya café itu dinamakan demikian karena inilah lokasi terbaik untuk meliat matahari terbenam dengan latar belakang Holy lake dan bangunan khasnya yang unik.

Setelah itu kami berniat untuk kembali pulang ke penginapan. Namun celakanya jalan-jalan kecil di Pushkar ini membuat kami bingung. Kami juga bertemu traveler asal Korea (*lagi2 kami disangka orang Korea) yang juga sedang tersesat mencari penginapannya.

Setelah bersusah payah, akhirnya kami sampai juga di penginapan. Malam itu Pushkar sangat dingin sekali, kami menyantap Tomato dan Noddle Soup dilengkapi dengan brown bread dan cheese naan serta satu teko chai panas. (*Chai di Six Sense Pushkar adalah chai terbaik yang pernah kami minum di India).

-Amank Sandi-

UNTOLD story : Haidy

Pushkar adalah sebuah kota yang penduduknya mayoritas beragama Hindu. Jadi semua makanan yang ditawarkan di sana bersifat vegetarian. Sedangkan kota tetangganya Ajmer, adalah sebuah kota yang memiliki mayoritas penduduknya beragama Muslim. Jadi lebih mudah untuk mencari makanan non-vegetarian di sini. Berjalan kaki dari stasiun kereta api ke stasiun bis di kota Ajmer lumayan jauhhhh. Bikin kaki jadi lebih berotot. Tetapi dengan begitu kita bisa melihat kota Ajmer lebih dekat walaupun hanyak dengan waktu yang singkat. Di stasiun bis, kita sempat berkenalan dengan seorang pria muda. Kita ngobrol panjang lebar tentang kultur, olah raga dan makanan. Eh tau taunya dia adalah makelar tempat penginapan. Di akhir pembicaraan dia berusaha membujuk kami untuk menginap di sebuah hotel. Kami menolaknya. Walaupun baru sebentar di kota Pushkar, saya sudah tau bahwa kota ini akan menjadi kota favourite saya selama di India. =)

Rincian pengeluaran day 5 :

  1. Taxi Hotel – DLI : Rp. 64.500
  2. Sarapan di stasiun kereta : Rp, 21.500
  3. Bis Ajmer – Pushkar  : Rp. 4.300
  4. Air Mineral : Rp. 2.580

Total Pengeluaran : Rp. 92.880

*Biaya makan di Resto Six Sense akan di rekapitulasi setelah kami check out.


Advertisements