Once upon a time in India (day 4)

Kali ini kami tidak bisa bersantai2 seperti di Varanasi kemaren sebab kami harus bergegas menuju ke stasiun kereta New Delhi (NDLS). Untungnya stasiun terletak tidak begitu jauh dari tempat kami menginap. Tujuan kami pada hari ini adalah Agra. Sebuah kota yang berjarak sekitar 210 Km dari New Delhi. Agra adalah sebuah kota yang tidak terlalu besar di India tetapi kota ini menjadi salah satu tujuan utama bagi para wisatawan. Bagaimana tidak Taj Mahal yang terkenal itu adanya di Kota Agra ini.

4. Megahnya Taj Mahal dan Agra Fort

Subuh itu kami bangun tepat pada pukul 5. Setelah bersiap (ga pake mandi pagi lagi) kami diantarkan taxi hotel untuk menuju ke station kereta New Delhi. Di Delhi ada dua stasiun kereta yang terkenal yaitu New Delhi (NDLS) dan Old Delhi (DLI). Jadi kalau mau bepergian dengan kereta pastikan kita harus berangkat dari stasiun yang mana, karena jarak antara kedua stasiun itu cukup jauh. Setelah sampai di stasiun, kami masih harus melewati antrian yang cukup panjang untuk bisa masuk ke dalam.

Kereta yang kami tumpangi adalah Bhopal Shatabdi Express. Sebuah kereta cepat yang akan memakan waktu hanya 3 jam untuk sampai di Agra (*kereta lain bisa 4-5jam). Kereta kami kali  ini tidak mempunyai tempat tidur seperti kereta kami sebelumnya. Kami duduk berhadapan dengan penumpang yang kursinya berada di depan kami. Tampak diseberang kami ada seorang pria India dengan pasangan seorang bule (sepertinya orang rusia) dan juga ayah dari cewek itu. (*Si Pria itu asyik banget pacaran gan). Aku dan Haidy hanya bisa ngiler meliat kejadian itu sambil berkata didalam hati “ahh..beruntungnya Cowo ini, ahh..Malangnya nasib Cewe ini..hahaha). Selama dalam perjalanan, selain mendapat surat kabar harian setempat kami juga mendapat sarapan yang cukup lengkap (*ini adalah kereta dengan servis terbaik yang  pernah kami tumpangi disana)

Setelah 3 jam perjalanan, akhirnya kami sampai juga di Agra Cantt, stasiun kereta di kota Agra. Petualangan kembali dimulai. Sebelum keluar dari stasiun kami sempat mampir ke pusat informasi turis, mengambil peta dan bertanya2 kepada petugas. Rata2 petugas disana mengarahkan kami supaya mengambil city tour yang telah mereka sediakan. Tetapi tentu saja kami tolak karena kami ingin menikmati semuanya secara bebas. Kami bertemu dengan seorang teman baru, seorang mahasiswa Korea Selatan. Kami memutuskan untuk ke Taj Mahal dengan naik taxi bersama-sama (*lagi2 sharing taxi, lumayan huemattt).

Setelah sekitar 15 menit perjalanan (6km), akhirnya taxi kami berhenti pada sebuah komplek.  Di kiri kanan banyak sekali sopir rickshaw yang menawarkan jasa mereka sambil berkata “its far..2km..2km..!” tapi kami tetap saja berjalan dan tidak menghiraukan mereka. Sambil berjalan kaki itu, kami berbincang2 dengan teman korsel kami. Pertanyaan yang paling menarik adalah  “Bagaimana hubungan korea selatan dan korea utara ?” (*saat itu berita lagi ramai membicarakan masalah pertikaan antara dua bagian itu).  Dia menjawab secara diplomatis “Apa yang kalian lihat di tv itu tidak seperti apa yang sebenarnya terjadi, mereka terlalu membesar2kannya.” Kami hanya manggut2 mendengar jawabannya sambil terus berjalan menikmati udara pagi yang terasa segar.

Setelah 5 menit berjalan kaki (*ternyata tidak terlalu jauh, sopir rickshaw terlalu lebay dengan 2km nya..hahaha) kami sampai di depan pintu masuk Taj Mahal. Kedatangan kami langsung disambut oleh orang-orang yang menawarkan jasa guide. Mereka mengaku bahwa mereka adalah “pegawai pemerintahan” yang ditunjuk untuk melayani para turis. Namun seperti biasa kami tidak terlalu menghiraukannya dan langsung menuju ke loket penjualan tiket. Ada dua  pintu penjualan tiket disana yaitu sebuah untuk penduduk lokal dan yang satunya lagi adalah untuk turis asing. Harga tiket untuk penduduk lokal adalah 20 rupee/org (Rp. 4.000,-) namun untuk turis asing adalah 750 rupee/org (Rp. 150.000,-) Entah apa maksud dari kebijakan tersebut. Tetapi sepertinya tempat2 wisata disana emang rata2 seperti ini dalam hal tarif. Taj Mahal dibuka untuk umum setiap hari, kecuali hari untuk Jumat.

Setelah membayar tiket, kami diberi sepasang kantung merah untuk pelindung sepatu dan sebotol air mineral. Sebelum memasuki kawasan Taj Mahal, kami diwajibkan untuk menitipkan semua tas di ruang locker yang telah disediakan. Jarak dari loket tiket ke loker tempat penitipannya cukup jauh. Ada dua tipe penitipan disana, yang terbuka dalam rak2 seperti rak buku (20 rupee/barang) dan ada juga lemari locker (50 rupee/lemari). Semua barang harus dititipkan kecuali kamera, handphone dan dompet yang harus dibawa. Yang lainnya harus dititipkan (tas, tripod, dll)

Aku cukup bingung mengapa teman Korea kami dari tadi seolah sibuk dengan dengan soft lensnya di luar sana. Saat ku tawarkan apakah dia hendak menitipkan barangnya juga di locker kami, dia menolaknya secara halus dan membiarkan kami pergi lebih dahulu ke dalam Taj Mahal. Dari situ baru kami sadari bahwa terkadang turis memang ingin menikmati perjalanannya sendiri. Kami pun sepakat untuk berpisah disitu.

Didepan pintu masuk Taj Mahal pemeriksaan tak kalah ketatnya seperti di bandara kemarin. Pemeriksaan dengan metal detector plus aksi raba2 pun kami jalani disana. Rokok dan pemantik api Haidy turut terjaring “rajia” itu.

Memasuki kompleks Taj Mahal yang terkenal itu seperti mimpi yang menjadi kenyataan bagi kami. Taman luas nan indah menghiasi arel seluas 22,44 hektar itu. Banyak kami lihat burung2 berterbangan dengan bebas dan tupai2 dengan lincahnya melompat dari dahan ke dahan di pepohonan. Dan tidak diragukan lagi, bangunan Taj Mahal yang berada di hadapan kami itu sungguhhh sanngattttt megahhh luar biasa.

Setelah asyik potret memotret di daerah sekitar komplek yang mendapat gelar “World Heritage Sites” dari UNESCO itu, maka kami mulai memasuki daerah depan gerbang Taj Mahal, disini adalah angle terbaik untuk mendapatkan potret Taj Mahal. Untuk bisa memotret kita mesti antri dengan para turis lainnya. Beberapa  juga meminta aku untuk membantunya memotret mereka.

Sebelum memasuki wilayah bangunan Taj Mahal, kami di haruskan memakai pelindung sepatu yang diberikan di loket depan tadi. Kami kemudian masuk kedalam Taj Mahal yang (ternyata) isinya cuman makam saja. Ada dua makam disana “Shah Jahan dan Istri Tercintanya Mumtaz Mahal” (that’s it). Di dalam, para guide sedang asyik menjelaskan sejarah bangunan itu kepada klien mereka. Ornamen batu2 mulia (safir, carnelian, jasper, jade, kristal dan pirus) di dinding bangunan sengaja disinari semacam senter oleh guide tersebut. Mereka berkilau2 indahnya. Sungguh unik. Keindahan kaligrafi Islam juga turut menghiasi dinding bangunan itu.

akhirnya bisa berfoto juga didepan Taj Mahal 😀

Aslinya bangunan Taj Mahal itu adalah sebuah representasi cinta dari Shah Jahan kepada Istri Kesayangannya Mumtaz-ul-Zamani (*atau Mumtaz Mahal) yang wafat saat melahirkan anak ke 14 mereka. Taj Mahal sendiri dibangun dalam nuansa campuran arsitektur bergaya Persia, Islami dan India. Menurut penjelasan dari private guide (*kami tidak menyewa guide, kami hanya mendekati dan menguping dari guide yang sedang asyik menjelaskan. cerdas apa pelit nih? hahaha) tercatat lebih dari 20.000 orang pekerja dikerahkan untuk menyelesaikan bangunan yang didominasi oleh batu marmer ini. Hal ini juga yang mungkin mendasari kenapa kami harus menggunakan kain alas sepatu (*supaya marmernya ngga gores). Terdapat juga 22 kubah kecil yang menghiasi Taj Mahal yang berkaitan dengan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan bangunan ini yaitu selama 22 tahun ! Huaa…

hiasan dinding Taj Mahal

Setelah puas berkeliling, kami makan siang di sekitar kawasan itu. Harga makanannya agak mahal tapi paling tidak kami menemukan ayam disini… ahhh, akhirnyaaa…chicken curry..hmmm…

Dari kawasan Taj Mahal kami menggunakan rickshaw menuju ke tempat wisata terkenal lainnya di Kota itu “Agra Fort” (Benteng Agra). Jarak keduanya tidak terlalu jauh (sekitar 2 km). Setelah 10 menit perjalanan, kami sampai di Agra Fort. Harga tiket adalah 20 rupee/org untuk penduduk lokal dan 300rupee/org untuk turis asing.  Lagi2 kami diharuskan untuk menitipkan barang bawaan kami. Hal yang sama seperti di Taj Mahal tadi.

Agra Fort bagian luar
Agra Fort bagian dalam

Agra Fort bagian dalam

Agra Fort juga termasuk dalam situs warisan dunia oleh UNESCO. Bangunannya didominasi oleh bata merah dan marmer. Tampak di dalamnya taman yang terawat, ruangan2 penting khas kerajaan, dan penjara. Monyet, burung dan tupai juga turut meramaikan benteng tua tersebut. Tanpa di duga disini kami kembali bertemu dengan teman korea kami (*ahh..dunia memang sempit :D).

Satu hal yang menyebalkan adalah sulit sekali untuk menemukan toilet di dalam kawasan benteng. (*saya terpaksa pipis sembarangan di dinding salah satu bangunan benteng disana – untungnya tidak bikin “bengkak” hahaha)

Taj Mahal terlihat dari balkon Agra Fort

Hari semakin sore dan kami menyudahi perjalanan kami di kota Agra. Kami bergegas mencari autorickshaw dan menuju ke stasiun kereta. Kali ini kami akan menumpangi kereta Punjab Mail yang bukan merupakan kereta cepat. Kami mendapatkan tempat di kelas AC tier 2 yang memungkinkan kami bisa menikmati perjalanan sambil tiduran. Namun di luar rencana, kereta yang kami tunggu tidak kunjung tiba. Di layar pemberitahuan menjelaskan bahwa kereta kami mengalami keterlambatan hingga mungkin akan sampai pada pukul 12 malam (*busetttt)

Jikalau kita tetap memutuskan untuk menunggu dan berangkat pada jam 12 malam, itu berarti  kedatangan kami di Delhi adalah jam 4 subuh. Sedangkan pada jam 4 subuh itu juga kereta yang akan membawa kami ke perjalanan kami selanjutnya sudah harus berangkat lagi ke kota Ajmer (*tidak akan mungkin sempat). Kami mencoba mengkonfirmasi prihal keterlambatan kereta ini ke tempat informasi stasiun. Menurut petugas, kereta sedang mengalami perbaikkan dan tidak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu. Dengan amat terpaksa, kami memutuskan untuk membeli tiket kereta lain yang akan berangkat ke Delhi. Dan beruntung ada satu kereta yang akan segera berangkat dalam 5 menit. Tanpa pikir panjang kami membeli tiket tersebut seharga 75 rupee/org (Rp. 15.000,-) (*Hmm…cukup murah dan mencurigakan, ini harganya cuma 1/6 dari tiket kami yang hangus tadi)

Dugaan kami benar, kami menaiki kereta dengan gerbong kelas super ekonomi. Tempat duduk alakadarnya dengan sudut tegak 90 derajat. Deretan kursi terbagi dua, di kiri dan kanan. Setiap kursi diisi oleh tiga penumpang. Sama sekali tidak ada turis di sini. Kebetulan aku dan Haidy duduk di kursi yang terpisah, saya di bagian sebelah kiri dan Haidy di bagian kursi sebelah kanan.

Sesaat kulihat Haidy tampak asyik berbincang dengan teman2 barunya di sana (dua remaja India), sedangkan aku cuma tidur2an dan sesekali ngobrol dengan dua remaja disebelah ku. Rata2 aksen inggris mereka sulit untuk dicerna. Membuat ku sering meminta mereka mengulangi kata2nya (*mencoba membela diri dari listening skill ku yang payah…hahaha). Mereka adalah orang yang baik dan friendly. Mereka juga berkata “Keliatannya kau bosan sekali dengan perjalanan ini, coba pakailah ini..!” (seraya menawarkan earphone untuk mendengarkan musik dari handphonenya). Namun ku tolak secara halus. Mendapat kereta kelas super ekonomi ini juga semakin membuka pemahaman kami tentang warga India. Sebelumnya kami sangat takut untuk memilih kereta kelas ini. Tapi ternyata kami salah, memilih kelas ini membuat kami bisa berbaur dan merasakan kehangatan warga India yang sebenarnya. Sungguh pengalaman yang luar biasa.

Sesampainya di Delhi, sahabat2 baru kami juga turut membantu untuk mendapatkan autorickshaw. Kami sepakat dengan harga 80 rupee kepada seorang pengemudi rickshaw. Sebelum berpisah sahabat kami sempat berpesan “Jika sopirnya macam2, kalian telpon aku atau ancam saja akan melaporkannya ke polisi.”

Saat itu sudah cukup malam (sekitar jam 10). Jalanan kota delhi yang lenggang membuat pengendara autorickshaw kami dapat memacu kendaraannya dengan kencang sekali. Mengakibatkan hawa dingin malam itu menyergapi kami (*Brrr… andai aku traveling sama perempuan tentunya lumayan, minimal bisa berpeganggan tanganlah…hehehe)

Jalan yang kami lalui sangat berbeda dengan yang kami lewati tadi pagi. Hal ini membuat kami sedikit curiga. Tak berapa lama pengemudi yang semakin tampak kebingungan itu menepikan kendaraannya dan bertanya kepada polisi yang kebetulan ada di pinggir jalan. Kami pun memperlihatkan kartu nama Hotel dan polisi itu langsung mengerti dan menjelaskan ke pengendara autorickshaw kami. Seperti biasa, dugaan kami benar…”salah alamat !” Sepanjang perjalanan berikutnya pengendara itu marah2 besar, berteriak2 seperti orang gila dan menyebutkan angka  “300 rupee..300rupee !!!”  (padahal tadi dealnya Cuma 80 rupee). Kami pun tak mau kalah dengan ikut2 marah. Teringat tragedi perjalanan taxi bersama teman Brazil dan Perancis kemaren. Saat itu mereka harus bersikap KERAS terhadap orang2 seperti ini. Atas dasar itu lah kami juga tidak bersikap lunak terhadap pengendara autorickshaw ini.

Namun apa daya, tampaknya pengendara ini lebih menyeramkan dan lebih garang dari kami.  Matanya melotot dan badannya juga besar (*ya kalo adu jotos2an cukup membuat kami babak belur..hahaha). Haidy hanya bisa menjawab “Take us to the hotel first, Ok !”. Yang lebih membuat geram saat itu adalah ketika hendak sampai ke hotel kami, si pengendara itu mematikan mesin argo rickshawnya, padahal angka baru menunjukan “80”.

Sesampainya di depan Hotel, ketegangan tetap berlanjut. Kami terpaksa memanggil petugas hotel untuk menjadi translator kami (karena dia tidak bisa berbahasa inggris). Setelah beradu argumen, silat lidah dan sebagainya, akhirnya kami membayar 150 rupee untuk autorickshaw itu (-.-“). Ada beberapa kemungkinan yang mungkin terjadi dari masalah ini.

Pertama : teman india kami salah memberikan alamat (*tapi tidak mungkin karena mereka sangat mengenali daerah kawasan dekat hotel kami itu)

Kedua : si pengemudi ini sengaja membuat skenario salah alamat (*yang ini lebih masuk akal).

Pesan kami : sebelum menaiki transportasi umum jangan lupa untuk memperlihatkan kartu nama hotel kepada si pengemudi. Hal ini tidak kami lakukan saat itu dan menjadi senjata bagi pengemudi itu untuk mengeruk lebih banyak rupee dari kami.

-Amank Sandi-

Untold Story by Haidy :

Ketika petugas kereta apinya bilang “…. but there is a train that is going to leave for Delhi in 5 minutes’ time. You should hurry if you want to catch that train !!” Saya yakin bahwa pada saat itu juga saya bisa lari lebih cepet daripada seekor kuda. Tangga penyeberang antara platform tinggiinya minta ampun. Dengan tas-tas yang banyak, kita loncatin tiga anak tangga sekaligus. Pas udah sampe di kereta pegelnya minta ampun.
Di dalam kereta, suasana cendrung lebih mirip seperti pasar. Lol. Orangnya rame banget. Ada yg berdiri sambil ngobrol2, ada yang duduk tertidur di kursi dan ada yang jualan makanan dan minuman. Syukur sekali saya duduk dengan dua orang remaja India yang orangnya seru. Kita ngobrol2 panjang lebar hingga perjalanan beberapa jam itu terasa singkat. Saya juga ditraktir sup tomat oleh mereka. =)

Rincian pengeluaran day 4 :

Taxi Hotel – NDLS : Rp. 21.500
Taxi Agra Cantt ke Taj Mahal : Rp, 21.500
Tiket Masuk Taj Mahal : Rp. 322.500
Makan Siang : Rp. 69.875
Rickshaw Taj Mahal – Agra Fort : Rp. Rp. 4.300
Tiket Masuk Agra Fort : Rp. 129.000
Autorickshaw Agra Fort – Agra Cantt : Rp. 10.750
Tiket Kereta Darurat Agra – New Delhi : Rp. 32.250
Autorickshaw NDLS – Hotel Cottage : Rp. 32.250
Makan Malam : Rp. 75.250
Hotel Cottage Yes Please (2 malam) : Rp. 387.000

Total Pengeluaran : Rp. 1.106.175

Advertisements