Once upon a time in India (day 3)

Bunyi alarm Handphone ku berbunyi keras sekali pagi itu, memberi tanda kami harus bangun. Tapi karena rasa kantuk yang berat, suhu yang dingin serta kulihat Haidy masih tertidur dengan pulas maka aku acuhkan saja alarm itu. Kami berencana melakukan sunrise tour boat pagi itu. Tepat jam setengah 7 kami bangun (telat setengah jam dari rencana), bersiap dengan peralatan kamera lengkap. Err.. tentu nya tanpa mandi pagi (karena dinginnya ampunnn).

3. Pertemanan Yang Tak Terduga

Sesampainya di pinggiran sungai Gangga, kami langsung disambut oleh pria separuh baya yang sangat ramah, dia menawarkan kepada kami tentang tour boat. Fyi, tour boat adalah aktivitas yang cukup terkenal ditempat itu, jadi kita akan diajak mengelilingi sungai gangga dengan menggunakan perahu yang dikemudikan oleh warga sekitar.

Setelah melakukan aksi tawar menawar, akhirnya kami deal dengan harga 200 rupe untuk 1 jam tour boat. Ketika hendak menaiki perahu, kami sempat dihampiri oleh anak perempuan yang “sedikit” memaksa untuk membeli flower candle (*bunga yang ditengah-tengahnya ada lilinnya, biasanya bunga tersebut dihanyutkan sambil memberikan harapan / doa, hal tersebut sangat lazim dilakukan oleh warga sekitar sebagai tradisi), kami terpaksa membeli bunga tersebut dengan 20 rupe, bukan apa-apa kalau tidak dibeli anak itu mungkin akan terus mengganggu kami diboat dan tentunya akan mengganggu kami nanti dalam acara potret-memotret.

Ada dua burning ghat yang terkenal di sungai Gangga yakni Manikarnika dan Harishchandra, keduanya berada di lokasi yang berlawanan. Menurut boatman kami, 1 jam hanya cukup untuk mengunjungi salah satu burning ghat yang ada di tempat itu.  Akhirnya kami memutuskan untuk menuju Manikarnika (salah satu burning ghat tertua dan tersuci di Varanasi) yang terletak di bagian selatan sungai Gangga. Sambil mengayuh, si pengemudi boat bercerita tentang apapun yang ada di kota Varanasi, mulai dari kebiasaan warga sekitar, sejarah bangunan ghat dll. Di sela sela perjalanan, dia juga melontarkan beberapa pertanyaan tentang bagaimana kehidupan di negara asal kami. Lucunya, kami juga ditanyain apakah kami sudah mempunyai pacar atau belum dan beberapa pertanyaan privasi lainnya.

Pagi itu sungai Gangga terasa dingin sekali, kabut tebal juga menghalangi sinar matahari pagi. Tampak di sekeliling kami banyak turis yang sedang bertour boat ria. Ada yang berkelompok namun ada juga yang sendirian seperti kami. Para penjual pernak-pernik dan makanan burung pun ikut meramaikan pagi di sungai Gangga (yahh mirip-mirip pasar terapungnya di banjarmasin lah). Kami juga sempat membeli dua kantung makanan burung seharga 20 rupe.
Burung-burung disana terbang secara bergerombol mencari boat mana yang kira-kira akan memberi makanan. Boatman kami memanggil burung-burung itu dengan berteriak “ooaawakkk…ooaawakk…!” sambil melemparkan sebagian makanan itu ke sungai dan dalam hitungan detik segerombolan burung itu datang dan menyerbu makanan tersebut – sungguh moment yang jarang sekali kami temui.

Setelah feeding selesai, kami diajak ke burning ghat dan seperti kemaren  kami diperingatkan untuk tidak menggunakan kamera kami. “Its not a problem for  you… but its problem for me… the police will catch me” kira-kira itu lah nasehat yang diberikan oleh boat man kami.

Dari jauh kami melihat, para pekerja sedang sibuk mempersiapkan kayu-kayu untuk proses pembakaran mayat. (*fyi : setiap warga di India menginginkan bahwa jika mereka meninggal kelak, mereka ingin di kremasi di sungai Gangga).
Perahu kami sengaja didekatkan ke burning ghat itu dan dari kejauhan tampak seorang pria mendekati perahu kami.

Mmm… perasaan aku mulai tidak enak. Bapak itu datang dan menaiki boat kami dan mulai memperkenalkan diri. Dia bercerita memiliki rumah singgah untuk orang-orang yang tidak beruntung di India dan dia merawatnya, memberi makan dan melaksanakan pembakaran mayat andai kalau mereka meninggal suatu saat nanti. Dia juga sempat menawarkan kepada kami untuk mampir dan melihat-lihat ke dalam tetapi dengan halus kami menolaknya. Dan seperti yang telah diperingatkan oleh instinct aku, ujung-ujungnya bapak ini memohon sumbangan untuk rumah singgahnya. Katanya “its good for your karma…bla..bla”. Aku berpandangan sejenak dengan Haidy dan kami pun merasa ada yang tidak beres dengan hal ini.
Aku memberikan 20 rupe kepada Haidy dan dia memberikan uang tersebut ke Bapak itu.

Kenapa Haidy? Karena dalam kasus-kasus seperti ini, wajah Haidy terlihat lebih sangar dan serius daripada wajah ku yang dalam keadaan normal sukanya cengengesan..hahaha…

Haidy memberikan uang kepada Bapak itu sambil memandangi boatman kami dan berkata “ No more scam..Ok !!” Guide boat kami itu hanya bisa menggeleng khas India saja. Dalam hal seperti ini tentu saja kami yakin bahwa boatman kami itu sudah tau dan menjadi bagian dari scam seperti ini (minimal boat man itu dapet komisi dari si Bapak tadi).

Perjalan dari tempat kami memulai sampai ke burning ghat ini dan kembali membutuhkan waktu 1 jam. Tetapi karena kami merasa kurang puas dalam mendapat materi poto-poto yang kami kehendaki maka kami memutuskan untuk menambah 30 menit lagi.

Kali ini kami menuju arah yang berlawan dari rute yang pertama tadi. Tujuan kami adalah ke Dashashwamedh Ghat. Ghat yang merupakan tempat pemandian utama warga sekitar.  Suasana nya cukup ramai, tua muda semuanya asyik dengan acara ritualnya masing2.
Setelah puas mengambil gambar, maka kami pun diantar kembali pulang. Sang boat man  bertanya kepada kami, ”Apakah kalian senang? Jika kalian tidak senang dan komplain ke boss ku, maka dia akan marah kepada ku, Boss ku adalah orang yang sangat galak!”. Ohh.. tentu saja kami senang (padahal gondok juga gara-gara kejadian di burning ghat tadi).

Kami kembali ke Ganpati GH dan sarapan di rooftop restaurant. Pagi itu kami memesan sandwich dan omelet serta masing-masing satu pot Chai berukuran sedang.
Ada seorang bule yang dari tadi duduk dibelakang kami datang dan menghampiri aku, dia bertanya apa dia boleh meminjam kamera aku sebentar (sambil menunjuk kamera yang memakai lensa tele).
Dengan rada-rada takut dan berpikiran yang tidak-tidak, akhirnya aku pinjamkan saja kameranya sambil komat-kamit berdoa mudah-mudahan tidak diapa-apain.

Ternyata kejadian ini berbuah manis, dia kembali menghampiri kami dan memberi tahu bahwa dia melihat ada sebuah bangkai kambing/anjing disungai tersebut tepat hanya beberapa meter dari warga india yang sedang asyik mandi di sekitarnya.
Warga tersebut sepertinya tidak ambil pusing dengan apa yang ada disekitar sungainya. Di atas bangkai tersebut juga berdiri dengan gagahnya burung pemakan bangkai yang sedang asyik memakan (mungkin biji matanya) bangkai tersebut.

Setelah selesai sarapan, kami kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini kami ke Nepalese Temple – kuil yang katanya puncaknya terbuat dari emas…wow…(*lumayan kalo bisa diambil buat modal usaha di indonesia).
Seperti biasa, ketika memasuki kawasan kuil sepatu kami kembali harus dilepas dan kami membayar 20rupe untuk jasa penitipan. Nepalese temple ini tidak terlalu besar. Pada bangunannya terdapat banyak ornamen-ornamen yang sangat mencuri perhatian..ya..  banyak sekali relief-relief kamasutra di dinding2 bangunannya…wow…(*jadi pengen…hahaha… )

Saat kami sedang asyik berphoto ria, ada seorang bhiksu kecil menghampiri aku, mengajak aku berbicara namun tidak terlalu aku acuhkan (*karena takut kalo ujung2nya disuruh beli ini lah, minta sumbangan ini lah, capek..).
Tapi saat dia mendekati Haidy dan bercakap2 dengan akrabnya, aku jadi bingung, kok tumben2nya Haidy bersikap seperti itu dan dalam hitungan menit kami bertiga terlibat obrolan2 yang menarik. Dan anak itu ternyata anak yang baik dan sangat bersahabat!
Dia adalah seorang anak India dari wilayah Shikim. Shikim merupakan nama daerah di dekat perbatasan nepal. Jadi orang India disana mukanya seperti orang Nepal, yah,, mirip2 orang cina juga.
Ketika dia mengetahui bahwa aku bekerja di rumah sakit, dia memberi ku pertanyaan yang sedikit menggelitik. “ Apa yang harus aku lakukan agar tubuh ku bisa cepat tumbuh besar ? ” Dengan sedikit bingung aku menjawab asal saja “ Minumlah susu, itu bagus untuk badan mu. ” (*jawaban standar aja gan, rada bingung juga kalo diahdapin sama pertanyaan yang aneh2..hehehe..)

Setelah dari Nepalese temple, perjalanan kami berlanjut ke gang2 di sepanjang sungai Gangga.  Banyak hal yang kami temui disana. Ada yang lagi berdoa di kuil2 kecil sekitar situ, ada yang lagi jualan pernak pernik, ada pula yang lagi main music seperti marching band. Sapi sapi pun turut menghiasi gang2 sempit itu.

Hari semakin siang, kami pun kembali ke Ganpati GH dan melakukan check out. Kami memutuskan untuk meminta bantuan taxi dari Ganpati GH untuk mengantarkan kami ke Lal Bahadur Shastri Int. Airport Varanasi untuk terbang ke New Delhi.

Jarak dari guest house kami ke Airport tersebut sekitar 25km. Airport di kota Varanasi ini adalah airport baru, jadi cuman ada beberapa counter yang beoperasi. Kami cukup kesulitan untuk menemukan counter makanan dan kami merasa beruntung ketika kami menemukan sebuah tempat yang menyediakan burger dan kentang goreng untuk makan siang kami.

Sistem keamanan di airport2 di India hampir semuanya sama. “Pemeriksaan Ekstra Ketat”. Semua barang kami diperiksa dengan seksama. Badan kami juga tak luput dari pemeriksaan para petugas, sampai2 money belt Haidy yang tersembunyi di dalam celana pun juga tak luput dari pemeriksaan.

Kami menggunakan jasa penerbangan “Spice Jet”. ya kalo di Indo mirip2 Lion Air lah, tidak ada yang special dari penerbangan ini, kecuali Pramugarinya yang cakep2…ohhh…:D
(*Yang paling berkesan adalah saat meliat sunset dari balik kaca pesawat yang sedang terbang, perpaduan birunya langit dan merah matahari sungguh indah, kok jarang nemu kaya gini di Indo yah?)

Setelah 1,5 jam penerbangan, akhirnya kami sampai juga di Ibu Kota India, New Delhi. Yang paling mengejutkan adalah kami bertemu kembali dengan teman traveller yang pada waktu di Varanasi kemaren kami menaiki mobil jemputan dan tinggal di tempat yang sama.
Setelah berbincang bincang, lagi-lagi kami memiliki tujuan yang sama yaitu “Hotel Cottage Yes Please”. Dia menawarkan kepada kami untuk sharing taxi (*dalam dunia traveling khususnya backpacker, sharing biaya taxi adalah hal yang sangat sering terjadi, selain bisa menghemat budget, juga bisa mempererat persahabatan).

Jalan-jalan di kota Delhi keliatannya lebih teratur dan lebih tenang (jarang kedengaran orang main klakson seenaknya). Aku, Haidy, dan orang Brazil itu (*aku lupa namanya) duduk dibelakang, sementara Elle pacarnya, duduk di bagian depan bersama sopir.
Kami juga sempat berbincang dengan teman kami itu, bahwa dia sudah traveling selama 2 bulan, start dari Australia, Phuket, Bangkok, Singapura, Malaysia, Bali, India dan akan berakhir di Dubai.. ahhh..bikin iri saja.

Setelah 30 menit perjalanan, sepertinya kami akan sampai, namun sang sopir taxi (yang tidak bisa berbahasa english) kebingungan mencari alamat hotel. Momen menegangkan pun terjadi, sang sopir bermaksud menurunkan kami ditengah jalan. Tapi Elle protes keras dengan aksen france nya yg sexeh dan berkata “Huwell is the Hotel,, Shloww Me…” dan yang tak kalah mengejutkan lagi teman Brazil kami juga berteriak kepada  Sopir itu.. “ Hey..hey.. Look at me.. look at me.. w h e r e  is the hotel..!”. Kami hanya bisa diam terpana meliat aksi mereka ini, tapi sepertinya cara2 seperti ini memang kadang2 harus dilakukan untuk kepentingan tertentu (biar ngga diperlakukan seenaknya).

Akhirnya dengan bantuan warga sekitar, sang sopir berhasil mengantarkan kami ke Hotel tersebut. Aku dan Haidy pun mendapat satu pelajaran berharga “sopirnya macam2..kita main keras saja..” (*dan ini akan menjadi cerita lucu di keesokan harinya).

Hotel Cottage Yes Please adalah hotel budget yang lumayan terkenal di New Delhi. Di depan hotelnya juga terpampang logo “Lonely Planet”. Kamarnya lumayan enak, bersih, dan ada TV kabelnya. Sayangnya tidak seperti di Ganpati GH layanan internet wifi di sini dikenakan tarif 100rupe/hari. Di depan Hotel ini ada tempat makan yang enak “Café Festa”. Makanannya enak2 dan harganya pun reasonable. Juga terdapat layanan wifi inet gratis disini. Lagi2 kami bertemu kembali dengan pasangan traveller Brazil dan France tadi.

Kamar standard di Cottage Yes Please
Cafe Festa

Setelah makan malam yang luar biasa, kami masih sempat jalan2 untuk melihat suasana malam di ibukota India ini. Tampak terlihat bioskop dengan poster2 khas film Bollywoodnya, ada juga toko-toko yang menjual minuman keras. Tampak anak2 muda yg sembunyi2 membeli disana (*habis beli langsung disembunyiin ke dalam baju). Tempat makan dan penginapan banyak bertebaran di kiri dan kanan jalan.

Setelah puas berkeliling, kami kembali ke Hotel untuk beristiharat.  Banyak pengalaman yang unik hari ini dan kami akhiri dengan meringkuk dibalik sleeping bag.

-Amank Sandi-

Untold Story (Haidy) :

Sebelum berangkat ke Varanasi, aku sempet takut soalnya di kota ini pernah terjadi aksi terorisme. Aksi teror tersebut pernah terjadi di tahun 2006, 2007 dan yang terakhir barusan terjadi pada bulan Desember 2010. Mungkin gara-gara ini juga setiap airport di India menerapkan keamanan extra ketat.

Kalo ke India ingetin aja bawa kaos kaki yang buanyaak. Soalnya hampir setiap kunjungan ke temple-temple mengharuskan kita untuk melepaskan sepatu atau sandal.

Sampai hari yang ke 3 ini aku sudah gak inget lagi berapa kali keinjek eek sapi (-_-“)

Rincian Pengeluaran Day 3 :
Sunrise Tour Boat : Rp. 64.500
Lilin Bunga : Rp. 2.150
Sumbangan di Burning Ghat : Rp. 4.300
Makanan Burung : Rp. 4.300
Sarapan Pagi : Rp. 73.100
Nepalese Temple : Rp. 4.300
Taxi Ganpati GH ke Airport : Rp. 129.000
Makan Siang : Rp. 75.250
Taxi Airport ke Cottage Yes Please : Rp. 24.725
Makan Malam : Rp. 80.410
Mineral Water : Rp. 4.300
Roti German : Rp. 12.900
——————————–
Total Pengeluaran : Rp. 479.235

Advertisements