Once upon a time in India (day 1)

“Twenty years from now you will be more disappointed by the things you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines, sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover.” – Mark Twain

Akhir Januari lalu, kami melakukan perjalanan lagi. Kami mengemas carrier kami dan terbang ke India. Berikut adalah catatan sederhana tentang perjalanan kami. Sebuah perjalanan yang menyimpan begitu banyak kenangan yang tak akan terlupakan untuk waktu yang lama. Happy reading ya !!

1. YE HAI INDIA DARLING !!

Yupp..  hari pertama pertualangan kami baru saja di mulai dengan pendaratan mulus di LCCT Airport Kuala Lumpur. Kami masih harus menunggu selama  3 jam sebelum meneruskan penerbangan kami selanjutnya ke Kolkata, India. Sambil berjalan jalan santai di sekeliling airport kami menemukan sebuah tempat makan di dekat departure area yang dipadati oleh banyak pengunjung. Kami memesan dua porsi nasi lemak untuk menu makan kami pada siang hari itu.

Penerbangaan ke Kolkata memakan waktu selama kurang lebih 4 jam. Selama dalam penerbangan, kami lebih memilih menghabiskan waktu untuk tidur dan membaca majalah.

Kami tiba di Netaji Subhash Chandra Bose International Airport  yang terletak 17km dari pusat kota Kolkata. Setelah mengambil bagasi, kami segera mencari pre paid taksi booth yang berada di sekitar area kedatangan untuk mengantarkan kami ke railway station. Ternyata di sini tidak ada yang namanya antri. Kami pun ikut berdesak-desakan di depan taksi booth untuk mendapatkan karcis.  Hawa musim dingin langsung terasa seketika kami melangkah keluar dari airport. Wow.. Tak terasa kami sudah sampai di India. Sebuah negara yang sudah menjadi impian kami untuk dapat kami jelajahi. Taksi yang masih banyak digunakan di india adalah taksi dengan model  jaman dulu dengan bentuknya yang classic.

Taksi kami melaju dengan kencang menembus keramaian lalu lintas kota Kolkata. Lalu lintas disini ternyata lebih parah dari pada lalu lintas di Indonesia. Klakson tak berhenti hentinya berbunyi. Banyak kendaraan memotong jalur seenaknya. Padat, semerawut dan kotor.

Jarak dari airport menuju ke Howrah Railway Station adalah 22km. Railway station ini terletak di tepian barat sungai Hooghly dan untuk ke sana kami melewati sebuah jembatan besar yang bernama Howrah Bridge. Sebuah jembatan yang dibangun pada sekitar tahun 1937. Jembatan megah ini dilalui oleh rata-rata 80.000 kendaraan dan 1.000.000 pejalan kaki pada setiap harinya dan menjadi ikon kebanggaan bagi kota Kolkata.

Setibanya di railway station, kami langsung saja mengambil barang bawaan kami di bagasi taxi dan berjalan cepat menuju ke dalam station. Howrah Railway station ternyata sangat besar dan membingungkan. Railway station ini merupakan salah satu yang terbesar di dunia dan tercatat sebagai station yang paling sibuk di India. Terlihat banyak polisi berjaga jaga di dalam station dengan membawa senapan laras panjang. Sayangnya, sangat sedikit sekali petunjuk yang ditulis di dalam bahasa Inggris. Kami mencoba bertanya kepada salah seorang dari polisi tersebut di mana letak platform kami. Setelah membaca tiket kami dia menunjukan arah yang harus kami ambil.  Bahasa inggrisnya yang kental dengan aksen khas India membuat kami perlu konsentrasi penuh dalam mencerna setiap kata yang diucapkannya.  Kami mencoba bertanya kepada beberapa orang lagi untuk meyakinkan platform kereta kami dan hasilnya sama saja.

MEMBINGUNGKAN !!

Station kereta api ini sangat padat dan dipenuhi oleh orang-orang yang  berlarian ke sana kemari dengan bawaan yang banyak. Hiruk pikuk ini membuat kami menjadi panik. Di dalam kondisi  kebingungan. Akhirnya kami melihat dari kejauhan pusat informasi keberangkatan kereta. Langsung saja kami menuju ke sana dan syukur sekali ternyata ada informasi yang ditulis dalam bahasa inggris. Kereta yang kami tumpangi adalah kereta yang bernama 3005/Amritsar Mail dengan tujuan  Varanasi yang akan memakan waktu selama kurang lebih 14 jam. Artinya kami akan menghabiskan malam kami dengan tidur di kereta. Sejauh mata kami memandang, kami tidak menemukan turis sama sekali. Hanya ada kami berdua berdiri dengan melonggo memperhatikan orang orang di sekitar kami. Perut yang sudah kami isi tadi siang sekarang mulai berteriak lagi.

Akhirnya kereta yang akan kami tumpangi datang. Kami bertanya sekali lagi kepada salah seorang penumpang untuk sekedar meyakinkan bahwa kereta yang akan kami tumpangi ini adalah kereta yang akan menuju ke Varanasi. Kedatangan kereta disambut dengan riuh teriakan dan bunyi kaki penumpang yang berlomba lomba untuk dapat menaiki kereta terlebih dahulu. Sekarang masalah buat kami adalah bagaimana kami bisa menemukan gerbong yang harus kami naiki !! Alhasil, kami pun jadi ikut berlari lari dengan barang bawaan penuh di badan dan kami pun merasa bahwa kami sudah menjadi bagian dari masyarakat India.

Setelah melalui perjuangan yang berat dan dibantu oleh salah seorang penumpang, kami menemukan tempat duduk kami. Kelas yang kami ambil pada waktu itu adalah Ac Tier 1. Kelas yang tergolong mahal. Kami terpaksa mengambilnya karena tiket sudah hampir terjual habis dan tidak menyisakan kami banyak pilihan.  Kabin untuk Ac Tier 1 berisikan 4 tempat duduk yang dapat dilipat dan bisa digunakan sebagai tempat tidur. Satu kabin diisi oleh 4 orang. Kami berdua mendapatkan tempat dibagian atas dan di bagian bawah diisi oleh dua orang bapak yang berumur 50an. Mereka sangat baik dan ramah. Kami banyak berbincang bincang. Salah seorang bapak tersebut berkerja sebagai seorang geologist dan yang satunya lagi adalah seorang professor yang mengajar di salah satu universitas di india. Kami memesan makan malam kami di kereta. Makan malam kami berupa nasi briyani yg menurut saya agak sedikit hambar. Malam semakin larut dan bapak bapak teman seperjalanan kami mulai tertidur pulas. Lampu kabin sudah dimatikan. Di dalam kereta terasa sunyi. Hanya suara gerbong yang bergoyang mengikuti  laju kereta yang terdengar.  Kami pun tak mau ketinggalan untuk beristirahat. Menyiapkan tenaga buat besok  di mana kami yakin banyak kejutan  dan tantangan sudah siap menanti kami.

*ditulis di dalam kereta api yang sedang melaju kencang membelah dinginnya malam. Ternyata bukan cuma saya yang bilang nasi briyaninya hambar. Si Amank jg barusan bilang nih. =)

nite guys!!

Haidy Jauw

*Untold story (Amank) :

menurut pengamatan saya : Dari proses check in di LCCT jurusan Kolkata aja udah berasa sekali style India nya. (no antri, serobot only)

Ketika di pesawat (dari KL menuju ke Kolkata), seorang pramugara mengira saya orang NG, gara2 saya makai passport holder National Geographic 😀 (ahhh, padahal cuman beli di kaskus aja gan… :D)

Saat di Imigrasi saya berhadapan dengan petugas imigrasi yang rada2 cerewet, tanya2 ini itu, kerja apa, dimana, dll. dengan kemampuan berbicara english “british pinggiran” yang saya kuasai akhirnya saya lolos juga, sementara Haidy berhadapan dengan petugas yang lebih baik dan cuek.

Prepaid taxi di India sama seperti di Indonesia, bayar dan bawa kwitansinya keluar bandara, disana sudah menanti para sopir taxinya tinggal kita berikan saja kwitansi tadi. Saat naik taxi jangan pernah menaruh backpack dan barang lainnya di bagasinya, karena kotor dan penuh oli.

Kalau ingin bertanya di train station, trik kami mencari org yang berpakaian agak rapi atau yang membawa laptop, biasanya mereka dapat berbahasa english dengan lancar.

Meski perut kami laparnya minta ampun, namun karena masih rada kultur shock jadi kami sedikit takut untuk membeli jajanan cemal cemil disekitar train station (alasan klasik : takut sakit perut), Untungnya haidy membawa cokelat dan itu adalah jawaban terbaik untuk situasi ini.

Waktu di train station saya juga sempat kebelet pipis, dengan sedikit berpetualang akhirnya saya menemukan toilet yang berbeda dengan di indonesia, tidak ada closetnya, jadi kita pipisnya berdiri langsung ke lantai yang dialiri air mengalir disampingnya diberi pembatas seperti triplex satu dengan yang  lainnya. (mirip kaya kita pipis di kamar mandi yang tidak ada closetnya 😀 *rada aneh yah)

Saat tidur di kereta kami lebih memilih menggunakan sleeping bag dari pada selimut yang telah disediakan oleh pihak train nya (lagi-lagi alasan klasik : kebersihan) Dan yang tidak kalah pentingnya hati-hati kalo makan nasi briyani saya sering sekali kegigit rempahnya. Haisss…yakks.

*Untold story (Haidy) :

Busettttt.. mesen makanan di dalem kereta api perlu waktu 2 jam baru dateng makanannya. kayaknya mereka nerima order dulu dari seluruh penumpang di kereta baru dibagikan makanannya.

Rata-rata masyarakat India demen ngobrol. bapak-bapak yang berada satu kabin dengan kami memberikan banyak pertanyaan mulai dari jodoh, masalah perkerjaan, gaji dan lain lain.

Rincian pengeluaran day 1 :

2 Nasi Lemak  = Rp. 60.000,-
2 Mineral water = Rp. 20.000,-
prepaid taxi airport kolkata to howrah JN  = Rp. 50.525,-
4 Mineral water = Rp. 10.320,-
2 Nasi briyani = Rp. 17.200
—————————————–
total pengeluaran = Rp. 158.045

Advertisements